Selasa, 18 Mei 2010

Nonton Kapal sebagai Hiburan


Kalau saja Anda saat ini berada di Fakfak – sebuah kota kecil di paruh burung Papua – dan ingin berjalan-jalan, kemudian bertanya kepada warga setempat, kemungkinan besar Anda akan disarankan pergi ke kota.
Tapi jangan membayangkan kota tersebut seperti kawasan Kota di Jakarta yang sarat dengan mall dan tempat hiburan. Kota di Fakfak tak lebih hanya sebutan untuk sepenggal jalan sepanjang sekitar dua kilometer bernama Jalan Itzak Tellusa. Jalan tersebut menghubungkan Pelabuhan Fakfak dengan satu-satunya tempat keramaian di kota tersebut.
Di Jalan Itzak Tellusa itulah kita bisa menemukan jejeran toko yang menjual kebutuhan sehari-hari. Mulai dari perlengkapan rumah tangga, pakaian, tempat makan, atau wartel.
Meskipun banyak toko, belum tentu apa yang kita cari – yang kalau di Jakarta sudah pasti ada – dapat dengan segera kita temukan di sana. Majalah dan koran yang dijual biasanya terbitan dua minggu sebelumnya. Snack dan produk kecantikan yang iklannya sering muncul di tivi, belum tentu tersedia.
Kawasan pertokoan di kota biasanya mulai buka pukul sembilan pagi. Jangan berpikir soal kedai kopi tempat duduk-duduk menikmati sarapan sambil melihat lalu lalang orang atau kendaraan, karena memang tidak ada. Juga jangan kaget kalau pukul dua siang semua toko menutup pintunya. Mereka baru akan buka kembali pukul lima sore. Kemudian buka lagi sampai sekitar pukul sembilan atau sepuluh malam.
Begitu pertokoan tutup, jalanan yang semula ramai mendadak kosong. Kalau keramaian masih ada sampai lewat pukul sebelas, aha, berarti ada Kapal Pelni yang akan sandar di Pelabuhan Fakfak.
Kedatangan Kapal Pelni – yang oleh warga biasa disebut Kapal Putih – merupakan satu hiburan tersendiri. Dengan jadwal kedatangan yang rutin, mereka hapal kapal apa yang akan sandar minggu ini. Apakah KM Bukit Siguntang, KM Dorolonda, atau KM Ciremai. Mereka juga tahu persis apakah kapalnya datang dari Kaimana atau justru akan berangkat ke Sorong.
Selain pesawat udara, kapal laut merupakan alternatif warga Fakfak dalam berhubungan dengan tempat lain. Dari Pelabuhan Fakfak secara reguler diberangkatkan kapal laut melayani trayek Fakfak-Sorong-Biak-Serui-Jayapura dan trayek Fakfak-Kaimana-Timika-Merauke. Untuk ke luar Papua ada trayek Fakfak-Banda-Ambon-Makasar-Surabaya-Jakarta. Ada juga yang melintasi jalur selatan melalui Kupang atau Maumere.
Warga berdatangan ke pelabuhan bukan hanya untuk menjemput famili atau keluarga yang mungkin berkunjung. Mereka menyambut kedatangan kapal putih seperti menyambut pasar malam. Biasanya kapal merapat antara dua sampai tiga jam. Selama masa sandar itu, warga bisa naik ke atas kapal untuk berbelanja pakaian, kebutuhan rumah tangga, alat elektronik, atau sekedar menikmati ayam goreng khas Amerika.
Harga barang yang dijual di kapal umumnya lebih murah daripada yang dijual di daratan. Apalagi kalau kapal akan kembali ke Makassar atau Surabaya. Kabarnya pedagang di kapal memilih melepas barang dengan keuntungan tipis daripada membawa balik ke Jawa, sebab di Surabaya nanti mereka akan berbelanja lagi.
Warga pedesaan pun memanfaatkan kehadiran kapal untuk menjual hasil bumi mereka. Maka tidaklah heran jika beberapa penduduk asli memanfaatkan masa sandar kapal dengan berkeliling menawarkan buah merah, buah durian, ikan panggang, atau manisan pala.

Berburu Rusa di Papua



Langit belum lagi gelap ketika sebuah longboat mendarat di pesisir pantai utara Distrik Kokas. Beberapa orang bertubuh hitam tegap berloncatan turun, diikuti oleh dua ekor anjing yang nampaknya sudah terbiasa berburu. Seorang di antara laki-laki hitam tegap tadi tampak menyandang senapan laras panjang.
Ini adalah pemandangan yang biasa di pesisir Papua – khususnya di perkampungan terpencil di tepi pantai. Distrik Kokas – kalau di Jawa identik dengan kecamatan – termasuk salah satu distrik di Kabupaten Fakfak yang dikelilingi oleh lautan dan dibatasi hutan alam. Orang-orang di longboat tadi bukan aparat keamanan, bukan tim pemberantasan illegal logging, mereka cuma sekelompok masyarakat yang bermaksud berburu rusa.
Kenapa rusa?
Karena jenis binatang itulah yang banyak ditemukan di hutan-hutan setempat. Dengan bermodalkan senapan laras panjang jenis Mauser – yang biasanya dipinjam dari petugas Koramil – plus beberapa butir peluru, sudah cukup untuk mendapatkan dua atau tiga ekor rusa.
“Apalagi kalau kita puanjing su biasa berburu, bisa dapat lebih banyak lagi,” kata Dahlin Iha sambil membubuhkan tip-eks pada ujung laras.
Anjing berguna untuk menggiring rusa setelah kena tembak. Lalu tip-eks tadi? Untuk menandai ujung laras supaya bidikan bisa tepat. “Kalau sumalam biasanya gelap jadi susah kalau tidak pakai tip-eks,” kata Dahlin lagi.


Sumber Daging
Satu-satunya pemangsa rusa di paruh burung Papua adalah Rusa (Cervus timorensis) merupakan salah satu mamalia yang banyak berkeliaran di hutan-hutan Papua. Selain rusa, mamalia yang banyak ditemukan adalah Babi Hutan (Sus Vitatus) dan kelompok marsupial atau hewan berkantung.
Seorang peneliti bernama Ronald G. Petocz, dalam bukunya Konsevasi Alam dan Pembangunan di Irian Jaya (1987) menyebutkan bahwa rusa bukanlah satwa asli Papua, melainkan satwa yang dimasukkan dari luar. Kemungkinan besar masuk dari Kepulauan Maluku karena ada jenis rusa yang dinamakan Cervus timorensis moluccensis.
Yang jelas, bisa dikatakan rusa adalah satu-satunya mamalia besar di Papua. Mamalia yang lebih besar, yang bersifat predator (pemangsa) bagi rusa bisa dikatakan tidak ada!
Ini yang membedakan rusa Papua dibandingkan rusa di kawasan lain. Di Sumatera atau Kalimantan, rusa menjadi binatang buruan bagi harimau (Panthera tigris), macan tutul (Panthera pardus), atau ular sanca (Phyton reticulatus). Itulah sebabnya mengapa rusa begitu banyak ditemukan di hutan-hutan Irian Jaya Barat.
manusia. Bagi masyarakat kampung, rusa merupakan salah satu sumber daging bagi kebutuhan sehari-hari. Apabila mereka membutuhkan daging dalam jumlah besar, misalnya untuk hajatan perkawinan, daging rusa menjadi pilihan yang mungkin.
Harganya termasuk murah. Pada saat di Fakfak harga daging sapi mencapai 45 ribu per kilo, daging rusa dijual hanya seharga 17 ribu per kilogramnya.


Tanduknya pun Laku
Perburuan biasanya dilakukan menjelang tengah malam. Satu tim umumnya terdiri dari satu penembak, minimal dua pembantu, dan seekor anjing. Senter merupakan salah satu alat bantu yang penting.
Kehadiran rusa diketahui dari tingkah anjing yang berubah. Posisi berdiri rusa bisa diketahui dari cahaya matanya yang menyolok di tengah malam. Pada saat disorot dengan senter, seekor rusa biasanya malah berdiri terpaku sehingga penembak makin mudah membidikkan senapannya.
Suara senapan yang membelah malam merupakan tanda sudah terjadinya ‘pembantaian’. Kalau rusanya tidak langsung rubuh, anjing berfungsi untuk mengejar atau menggiring ke arah pantai.
Pagi hari perburuan selesai. Rusa hasil buruan, kalau kondisinya tidak memungkinan dibawa hidup-hidup, biasanya langsung disembelih di tempat. Kalau lokasi perburuan jauh dari pantai, daging biasanya dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Isi perut ditinggal begitu saja di tengah hutan.
Kadang-kadang, selain mendapat rusa dewasa, pemburu juga acapkali mendapatkan anak rusa yang bisa sekalian ditangkap. Anak rusa tadi bisa dipelihara sampai menjadi rusa dewasa, seperti layaknya memelihara kambing.
Sesampainya di kecamatan, daging rusa dijual eceran kepada penduduk yang berminat. Atau bisa juga dijual borongan. Untuk rusa ukuran sedang – dengan berat daging sekitar 20 atau 25 kilo – dihargai tiga ratus ribu Rupiah.
Kalau rusanya jantan dewasa, selain daging masih ada hasil ikutannya yang berharga, yaitu kepala dan tanduk. Kepala dan tanduk rusa bercabang minimal enam, biasanya dioffset menjadi hiasan dinding. Untuk hasil pengoffsetan yang sempurna, harganya bisa mencapai lima ratus ribu Rupiah.

Kamis, 13 Mei 2010

Baku Tunggu di Fakfak

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, salah satu arti kata baku adalah saling atau menunjukkan kegiatan yang berbalasan. Padanan yang sering disandingkan dengan kata baku biasanya adalah baku hantam yang artinya saling berhantam. Tapi sewaktu saya bekerja di Fakfak – salah satu kabupaten di paruh burung Papua – penggunaan kata baku ternyata meluas kemana-mana.
Pada suatu hari saya terpaksa berangkat sendirian ke tempat kerja karena teman yang ditunggu-tunggu tidak muncul. Siangnya saat jumpa di tempat kerja baru ketahuan penyebabnya: kami saling menunggu di tempat berbeda. Saya menunggu di hotel sementara teman tadi menunggu di terminal. Sambil tertawa-tawa teman tadi yang asli Fakfak berkata, “Wah, kita tadi baku tunggu rupanya!”
Artinya kami ternyata saling menunggu sehingga tidak bertemu.

Di akhir bulan, bagian keuangan perusahaan tempat saya bekerja kesulitan membayarkan gaji karena tidak ada uang kecil. Pekerja yang satu kurang 20 ribu, sementara pekerja yang satu lagi gajinya kurang 30 ribu. Akhirnya akuntan kami memanggil keduanya, menyerahkan selembar 50 ribuan kepada seorang diantaranya sambil berkata, “Nih, kalian punya gaji ada lebih di sini. Sama kamu ada dua puluh, sama kau ada tigapuluh. Saya tak ada uang kecil, jadi ini limapuluh kalian baku bagi ya?”
Artinya kedua pekerja itu diminta membagi sendiri pecahan 50 ribu supaya sisa gajinya bisa terbayarkan.
Alhasil di sana kata baku menjadi begitu beragam padanannya. Misalnya baku pukul, baku atur, baku angkat, baku ganti, atau baku pinjam. Semuanya untuk menunjukkan kegiatan yang saling berbalasan.
Pada kesempatan lain saya dikejutkan sewaktu salah seorang pekerja berkata, “Kita kasih bunuh mesin-kah, Bapak?”
Saya kaget karena mengira ada yang baku bunuh di antara pekerja. Rupanya pekerja tadi cuma ingin menanyakan apakah mesin generatornya sudah bisa dimatikan atau belum. Barangkali karena melihat saya sudah tidak menggunakan komputer lagi.
Setelah tahu bahwa membunuh ternyata juga dipakai untuk mematikan mesin, maka besok-besoknya saya dengan enteng berkata, “Saya tak pakai komputer lagi, kasih bunuh saja mesinnya!”
Rupanya pekerja yang saya suruh bukan dari bagian genset dan tidak tahu cara mematikan mesin sehingga balik bertanya, “Bagaimana cara bunuhnya, Bapak?”
“Pukuli saja sampai mati,” jawab saya sambil tertawa.

 

Buahnya Gratis

Saat paling menyenangkan jika bekerja dekat perkampungan adalah saat musim buah-buahan. Begitu juga sewaktu saya bertugas di pedalaman Kabupaten Mandailing Natal – Sumatera Utara. Masyarakat di sana banyak yang memiliki kebun buah-buahan. Mulai dari kebun durian, rambutan, jeruk manis, kueni, atau langsat – semacam duku tapi rasanya agak masam.
Karena transportasi ke pasar sangat jauh dan ongkosnya mahal, mereka lebih suka menjual di desa sendiri. Karena itu harganya juga murah. Apalagi kalau kita mau datang langsung ke kebun mereka.
Memang melelahkan, karena kebun mereka biasanya berada di balik bukit. Untuk mencapainya bisa memerlukan setengah sampai satu jam perjalanan. Yang menarik dari transaksi di kebun adalah: kita boleh mencicipi sepuas-sepuasnya.
Sambil beramah-tamah dengan pemilik kebun, kita bisa duduk-duduk sambil menikmati durian atau kueni atau rambutan yang baru dipetik dari tangkainya. Dan untuk semua itu kita tidak perlu membayar. Yang perlu dibayar hanyalah buah-buahan yang kita bawa pulang.
“Wah, enak dong. Kita cicipi sepuasnya, belinya cukup satu dua.”
Memang enak. Tapi rasanya risih juga kalau hanya beli sedikit. Maka biasanya masing-masing membawa seberapa sanggupnya. Kalau durian ya segandeng seorang. Kalau kueni masing-masing sekantong plastik.
Kalau semuanya tidak sanggup membawa karena kekenyangan?
Tidak usah kuatir, pemilik kebun bersedia membawakan sampai kampung. Dan untuk ukuran mereka sekarung durian atau sekarung langsat belum apa-apa. Maka pulanglah kami dengan oleh-oleh sekarung buah-buahan.
Sudah harganya murah, kenyang mencicipi, dibawakan lagi!

 

Nasionalis Sejati

Di desa-desa terpencil, televisi menjadi satu-satunya hiburan, meskipun untuk dapat menangkap siarannya memerlukan antena parabola. Begitu juga yang saya alami sewaktu bertugas di pedalaman Kabupaten Mandailing Natal pada awal-awal 1990an. Saat itu sedang ramai-ramainya stasiun tivi swasta menayangkan film-film Asia, khususnya India dan Hongkong, yang menjadi acara favorit penduduk di sana.
Kalau sudah ada pemutaran flm-film India, rumah-rumah atau kedai yang dilengkapi pesawat tivi bakalan penuh sesak oleh penonton. Hebatnya lagi, mereka menyukai film-film yang sudah di-dubbing ke dalam Bahasa Indonesia. Kalau ada film yang tidak di-dubbing – tetap dalam bahasa aslinya tetapi disertai teks terjemahan – mereka bisa menggerutu panjang lebar.
Bukan main, kagum saya dalam hati, begitu nasionalisnya mereka terhadap Bahasa Indonesia!
Pada saat saudara se-tanah air di kota-kota lain begitu bangga dengan istilah-istilah yang berbau bahasa asing, mereka tetap konsisten mencintai bahasa nasional mereka.
Belakangan saya tahu bahwa mereka menyukai film-film dubbing karena bisa segera tahu jalan ceritanya. Tidak perlu repot-repot membaca teks terjemahannya. Sebab sebagian besar penduduk memang tidak lancar membaca. Bahkan banyak di antaranya yang masih buta huruf!

 

Lima Ribu Komplit

Setiap kali saya berkunjung ke Kota Padangsidempuan, biasanya saya menginap di Hotel Istana yang terletak persis di ujun Jalan Diponegoro. Dan biasanya selalu menyempatkan diri memangkas rambut.
Tempat pangkasnya berada persis di bawah hotel. Hotelnya sendiri menempati lantai dua dan tiga. Lantai satu dipakai oleh beberapa kios pangkas yang berjejer berurutan. Meskipun kios pangkasnya lebih dari satu, mereka tampaknya punya pelanggan sendiri-sendiri. Tukang pangkasnya berasal dari Sumatera Barat. Ini bisa dikenali dari nama marga yang tercantum pada masing-masing cermin. Nama-nama itu misalnya Chaniago, Kotto, atau Jambak.
Saya senang memangkas rambut di situ karena sambil dipangkas kita bisa melihat lalu-lalang orang di sepanjang jalan. Pelayanannya pun komplit. Setelah rambut dipotong sesuai permintaan, bangku pangkas dimiringkan hampir 150 derajat agar kita merasa relaks saat kumis, cambang, dan dagu dibersihkan. Setelah bangku ditegakkan kembali, pundak kita dipijit-pijit, kemudian kepala ditekuk kiri kanan sampai terdengar bunyi tulang bergemeletak. Setelah sisa-sisa rambut dibersihkan, pundak kita masih diolesi lagi dengan minyak oles.
Untuk semua itu kita hanya perlu membayar lima ribu Rupiah saja!
Waktu itu – sekitar tahun 1995an – tarif itu relatif murah. Bahkan sangat murah kalau dibandingkan dengan ongkos memangkas rambut di Jakarta.
Memang di pinggiran Jakarta ongkos pangkas rambut kurang lebih sama. Tapi itu hanya untuk potong rambut dan pijat pundak saja. Kalau mau merapikan kumis dan dagu dikenakan tambahan biaya.

 

Menanam Padi Harus Bersamaan

Sewaktu bertugas di pedalaman Kabupaten Mandailing Natal, saya mendapat tugas dari perusahaan untuk menaman padi unggul jenis IR 64. Tujuannya agar masyarakat sekitar dapat melihat keunggulan jenis padi tersebut dibandingkan padi lokal yang selama ini mereka tanam.
Ketika hal tersebut saya sampaikan kepada kepala desa, beliau menyarankan untuk menunggu musim tanam berikutnya, sebab saat itu sudah memasuki masa pemeliharaan padi. Rupanya tradisi di desa tersebut, kegiatan menanam padi dilakukan serentak. Kapan mulai menyemai dan kapan mulai menanam diumumkan lewat mesjid seusai sholat Jum’at.
Merasa sebagai orang berpendidikan, tentu saja saya keberatan. Kenapa harus ikut-ikutan yang lain? Biarlah padi di sawah-sawah lain sudah mulai berbulir, kalau kita baru mulai menanam sekarang, apa salahnya? Toh lahan milik kita sendiri, dan benih juga kita beli sendiri.
Akhirnya dengan penuh keyakinan benih padi unggul itu kami tanam. Ketika padi-padi milik masyarakat sudah dipanen, padi milik perusahaan baru memasuki masak bulir. Pernyataan dari kepala desa kemudian terbukti. Karena sawah-sawah lain sudah kosong, maka seluruh burung-burung sawah menyerbu sawah kami. Mereka berpesta pora di sawah kami!
Baru kemudian saya menyadari bahwa salah satu alasan kenapa menanam padi dilakukan serentak adalah untuk mengurangi resiko serangan burung. Dengan banyaknya sawah yang masak bulir secara bersamaan, serangan hama burung jadi terbagi-bagi.
Kebersamaan memang mempunyai makna yang lebih baik. Dan pengalaman dengan padi itu merupakan salah satu buktinya.

 

Rabu, 12 Mei 2010

Ampas Kelapa sebagai Pelindung Benih


Sewaktu bekerja di pedalaman Tapanuli Selatan (kini Kabupaten Mandailing Natal – pen.) saya berinisiatif mengisi waktu dengan bercocok tanam. Merasa sebagai ‘orang kota’, biasanya saya berkonsultasi dulu dengan masyarakat setempat jika akan menanam sesuatu. Demikian pula ketika terpikir untuk menanam cabe di halaman belakang.
Orang kampung yang saya mintai pendapat menyarankan begini, “sebelum benihnya disemaikan, rendam dulu dengan air panas satu malam sebelumnya.”
O, kalau itu saya sudah tahu. Gunanya untuk mempercepat proses tumbuhnya benih. Dengan direndam dalam air panas, kulit benih menjadi lunak sehingga kecambah lebih mudah menembus keluar. Besok paginya sudah kelihatan bintik-bintik putih kecambah di tepian benih. Dengan cara itu kita sekaligus bisa mengetahui mana benih yang baik dan mana yang jelek.
“Jangan lupa bawa ampas kelapa,” kata Bapak itu lagi. “Nanti ditaburkan di sekeliling tempat semainya.”
Nah, kalau yang ini saya baru mendengar.
“Untuk apa, Pak?”
“Di sini banyak semut yang suka memakan benih. Dengan adanya ampas kelapa tadi, semut-semut itu akan memakan ampasnya lebih dulu. Begitu ampasnya habis, benihnya sudah tumbuh dan sudah aman dari gangguan semut.”
Saya mengangguk-angguk mengerti.
Yang begini ini tidak pernah disebutkan dalam buku panduan. Memang benar kata pepatah, pengalaman adalah guru yang paling baik.


dimuat di majalah intisari No.530/September 2007

Dipanggil Dengan Nama Anaknya

Selain persoalan memanggil dengan nama marga, persoalan panggil memanggil ini ternyata belum selesai. Banyak karyawan yang sering dipanggil dengan nama yang berbeda dengan namanya sendiri. Ada yang bernama Amin Saputra tapi sehari-harinya dipanggil Pak Rizal. Istrinya juga disebut Mak Rizal. Ada lagi marga Manulang yang dipanggil Papa Amel, sementara istrinya dipanggil Mama Amel.
Tadinya saya pikir itu adalah julukan atau alias, atau sekedar nama kecil untuk menunjukkan keakraban. Ternyata bukan. Nama panggilan itu adalah nama anak pertama mereka.
“Kebiasaan di sini memang begitu. Orang biasa dipanggil dengan nama anak pertamanya. Pak Rizal itu berarti Bapaknya si Rizal. Kalau Papa Amel berarti Papanya si Amel….”
Tanya punya tanya, kebiasaan itu terjadi karena banyaknya nama atau marga yang sama. Jadi untuk mempermudah pengenalan, nama anak pertamanya yang dipakai, tidak peduli apakah anak pertamanya laki-laki atau perempuan. Juga tidak peduli apakah anaknya baru satu atau sudah dua belas.
Kemudian bagaimana kalau sudah punya anak tetapi anaknya belum diberi nama? Soalnya di kalangan suku Batak kadangkala untuk memberi nama anak harus menunggu persetujuan dulu dari Ompung (kakek-nenek) dan kerabat se-marga lainnya.
Gampang. Kalau anaknya laki-laki, untuk sementara Bapaknya boleh dipanggil Pak Ucok. Sedangkan kalau anaknya perempuan, panggil saja Pak Butet. Nanti kalau anaknya sudah dapat nama, otomatis sebutan itu akan berganti dengan sendirinya.
Tadinya saya pikir ini cuma kebiasaan di Sumatera Utara saja. Ternyata tidak.
Anda kenal Papa T. Bob? Nama pencipta lagu anak-anak itu ternyata juga bukan nama aslinya. Nama itu diambil dari nama anak laki-laki pertamanya, yaitu si T.Bob. Jadi Papa T. Bob artinya ya Bapaknya si T. Bob.

 

Di Sini Sedia B-2....

Pernah jalan-jalan di pasar tradisional di kawasan Sumatera Utara?
Kalau pernah, jangan heran kalau melihat kios daging dengan tulisan DI SINI DIJUAL B-2 pada dindingnya. Juga jangan kaget kalau melihat daging yang dijual rada-rada aneh. Sebab tulisan itu memang petunjuk yang memberitahukan bahwa di kios itu dijual daging babi. Kios tempat penjualannya pun terpisah jauh dari kios daging yang menjual daging sapi, daging kerbau, daging kambing, ataupun ayam.
Tulisan semacam itu kadang juga terlihat pada kios-kios tunggal di pinggir jalan, atau pada pakter-pakter dan lapo-lapo tuak yang merupakan tempat minum-minum khas di Sumatera utara. Pertanyaan yang melintas barangkali, “kenapa babi disebut dengan B-2?”
Karena dalam kata babi terdapat dua huruf b.
Selain istilah B-2, terbaca juga tulisan lain, misalnya, DI SINI JUGA SEDIA B-1.
Jangan buru-buru menafsirkan sebagai vitamin b1, karena memang tidak ada hubungannya sama sekali. Pengumuman terakhir tadi berarti tempat itu juga menyediakan daging anjing.
Lho, kok anjing disebut B-1? Kan tidak ada huruf b-nya?
Bisa saja.
Sebab di Sumatera Utara anjing dipanggil dengan sebutan Biang.


 

Semua Minta Dipanggil Marganya


Kesulitan awal yang harus saya hadapi ketika bertugas di Sumatera Utara adalah masalah marga. Pertama, banyak nama marga yang baru pertama kali saya dengar. Selama di Pulau Jawa, marga suku Batak yang terdengar paling-paling Siregar, Simatupang, Silitonga, atau Si- Si- lainnya. Makanya waktu pertama kali berkenalan, saya terkaget-kaget karena banyak marga yang baru sekali itu saya dengar. Misalnya Marbun, Harianja, Barutu, Pinem, ataupun Gaja.
Masalah kedua, mereka lebih suka dipanggil nama marganya daripada nama depannya!
Ini merepotkan karena bukan cuma satu orang yang bermarga Siregar. Ada Maruli Siregar, Marsihat Siregar, atau Monang Siregar. Repotnya karena di dalam daftar karyawan ketiganya tercatat sebagai M. Siregar! Kalau ada sesama karyawan yang bertanya, misalnya, “Pak, ada melihat Siregar?” Maka saya akan ganti bertanya, “Siregar yang mana?”
“Siregar yang supir dumptruk itu!”
O, baru saya tahu siapa yang dimaksudkannya.
Waktu masalah ini saya sampaikan, anggota saya yang bernama Ganda Siregar malah membenarkan. “Iya, Pak, kalau kami orang Batak lebih suka disebut marganya. Supaya lebih terasa kebersamaan dan kekeluargaannya. Jadi kalau Siregar-Siregar sedang berkumpul, semuanya merasa sama. Tidak ada Siregar yang supir, tidak ada Siregar yang kepala bagian.”
Untuk membedakan Siregar yang satu dengan Siregar yang lainnya ditambahkanlah jenis profesinya masing-masing. Nama panggilannya menjadi berbeda dengan nama yang tercatat dalam daftar karyawan. Ada Siregar Dumptruk (yang supir dumptruk), ada Siregar Las (yang tukang las), ada juga Siregar Survey (yang kerjanya survey).
Masalah kemudian muncul kalau ada dua marga yang sama yang bekerja di bagian yang sama pula. Maka lahirlah nama Sirait Parapat (yang asalnya dari Kota Parapat) dan Sirait Medan (yang mengaku sebagai anak Medan).
Ada juga karyawan yang bukan Batak yang sama-sama bernama Supriyadi, sama-sama supir logging truk, dan sama-sama berasal dari Aceh. Untuk membedakannya, yang lebih dulu masuk kerja dipanggil Supriyadi A. Sementara yang masuk belakangan dinamai Supriyadi B.
Kasus nama yang sama ini memang banyak dijumpai di desa-desa yang terpencil. Lingkungan desa yang sederhana tidak memerlukan nama yang aneh-aneh – seperti anak-anak kota jaman sekarang. Pernah pada satu saat ada tiga orang yang bernama Nasib. Hanya Nasib saja. Tanpa marga, tanpa nama belakang, tanpa nama keluarga. Masalah muncul karena bagian personalia mengira itu kesalahan tulis saja. Dipikirnya nama satu orang yang didaftar sampai tiga kali. Setelah tahu bahwa ketiga-tiganya ada dan eksis di perusahaan, maka dibuatlah nama Nasib I, Nasib II, dan Nasib III.
“Kayak nama raja-raja saja,” komentar karyawan lainnya. Mungkin dia teringat Sultan Hamengkubuwono IX dan Hamengkubuwono X.
Lalu bagaimana kalau ada karyawan yang nama atau marganya sama, pekerjaannya sama, kampung asalnya sama, dan tanggal masuknya juga sama? Memang kejadian seperti itu belum pernah terjadi. Tapi kalaupun ada, percayalah, selalu ada cara untuk menemukan pemecahannya.


Tulisan ini pernah dimuat di Intisari edisi Januari 2007

Selasa, 11 Mei 2010

Pengantinnya Pakai Kacamata Hitam



Prosesi perkawinan di Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara, masih bertahan sampai sekarang. Setidaknya untuk desa atau kampung yang berada jauh di pelosok gunung atau bukit.
Acara biasanya diawali dengan iring-iringan mempelai pria ke rumah mempelai wanita. Mempelai pria diiringi keluarganya berjalan kaki menuju rumah mempelai wanita. Kemudian ijab kabul atau pembacaan janji pernikahan seperti pada umumnya, biasanya diikuti dengan nasehat-nasehat dari para tetua adat atau tokoh desa.



Yang menarik, pengantin prianya mengenakan kacamata hitam. Ini katanya untuk mengurangi rasa malu karena seharian jadi tontonan orang banyak. Kacamata hitam itu dipakai sejak sore hari – saat iring-iringan – sampai malam hari – saat pembacaan ijab kabul. Bahkan pada malam hiburan yang diadakan malam itu juga atau besoknya, kedua mempelai wajib hadir di sisi panggung – meskipun hanya untuk duduk saja.
Belakangan ini sudah ada rasa malu memakai kacamata hitam, terutama pada malam hari karena dirasa tidak cocok lagi dengan suasana. “Seperti tuna netra saja,” begitu mungkin pikir mereka. Kacamata pun diganti dengan yang berwarna kecoklatan atau putih polos.

 

Hiburannya – kalau di desa-desa yang jauh dari kabupaten – biasanya band dari kampung setempat. Lagu-lagunya didominasi lagu dangdut. Kadang-kadang lagu Rock Malaysia. Selain band, yang paling sering ditampilkan adalah Nasid atau Qasidah. Apalagi kalau kebetulan mempelai wanitanya sewaktu masih gadis aktif sebagai anggota Nasid.
Kalau mempelai wanitanya dulu vokalis Nasid, sudah bisa dipastikan ia akan didaulat untuk menyanyi. Seperti juga pada pentas dangdut, tak usah heran kalau di antara penonton ada yang naik ke pentas untuk nyawer – menyerahkan lembaran uang kertas.
Pemberian uang sawer itu bisa bermakna dua hal. Pertama sebagai sumbangan atau kado pernikahan. Kedua sebagai permintaan untuk terus menyanyi. Makna yang kedua menunjukkan popularitas sang mempelai saat masih gadis dulu. Semakin banyak yang menyawer, berarti makin banyak penggemarnya yang kecewa karena sejak saat itu dia sudah jadi istri orang.


tulisan ini juga dimuat di Intisari edisi Juli 2010

Senin, 10 Mei 2010

Taksi atau Angkot?

Istilah taxi untuk menyebut angkutan kota ternyata banyak digunakan di beberapa wilayah di luar Pulau Jawa. Misalnya di Bengkulu, di Pekanbaru, di Fakfak, dan juga di Pangkalan Bun. Mungkin juga ada di beberapa provinsi lain di Indonesia tercinta ini.
Namanya saja taxi, tapi penampilan dan sistim trayeknya lebih mirip angkot. Kadang – secara kebetulan – warnanya pun kuning seperti umumnya warna taxi pada tahun 80-an. Meski begitu, penampilan taxi angkot di beberapa tempat memiliki kekhasannya sendiri-sendiri.
Persamaan antara taxi angkot dan taxi betulan ya di servis-nya. Kita bisa minta diantar sampai di depan rumah kalau kita meminta – misalnya pas lagi banyak bawa barang belanjaan. Tinggal ngomong sama sang supir dan biasanya penumpang lain maklum adanya.
Saya senang-senang saja kalau taxi angkotnya nyeleweng dulu keluar trayek. Apalagi kalau sedang tidak terburu-buru. Toh tidak bakalan terlalu jauh. Soalnya dengan begitu malah jadi tahu pelosok-pelosok jalan yang lain.
“Itulah sebabnya dinamakan taxi,” komentar saya dalam hati.“Penumpangnya bisa minta diantar langsung ke depan rumah..”
Di Pekanbaru, taxi-taxi angkot identik dengan musik. Hampir semua dilengkapi dengan stereo set yang memekakkan telinga. Pilihan musiknya pun beragam, tergantung selera supirnya. Ada yang pop, ada yang dangdut, ada pula yang rock. Semakin mendekati terminal di Jalan Nangka – yang di sana disebut loket, mungkin karena banyaknya loket-loket bis antar kota yang berjajar di sepanjang terminal – suara hingar-bingar semakin menjadi.
Hebatnya lagi, calon penumpang bisa memilih sesuai selera musiknya masing-masing. Meski taxi-nya sudah berjejer di depan mata, tapi kalau selera musiknya berbeda, mereka – biasanya anak-anak sekolah – lebih rela menunggu musik pujaannya.
“Nggak ah,” terdengar komentar salah seorang di antaranya. “Nanti aja. Musiknya aku enggak suka....Tunggu yang pop aja...”
Padahal, di dalam angkot berisiknya bukan main. Kalau pas kebagian tempat di depan di samping supir, kadang saya mengecilkan sendiri volumenya. Soalnya pernah pada satu waktu, pas lagi dalam angkot yang menyetel dangdut house music, eh istri menelpon. Begitu mendengar suara bising, istri spontan bertanya,
“Papa lagi di mana? Lagi di diskotik ya?”
“.....  ....”

 

Minggu, 09 Mei 2010

Taksinya Bayar Masing-Masing

Kalau Anda berada di Sumatera Utara, jangan sembarangan mencari taksi!
Sebab di sana ada dua macam pengertian taksi yang mungkin menimbulkan salah paham. Taksi-taksi seperti yang hilir mudik di Jakarta – yang pakai argometer dan ada tulisan Taxi di atasnya – hanya akan Anda jumpai di Kota Medan. Sementara di kota-kota yang lain – misalnya di Binjai, Kisaran, Pematangsiantar, Sibolga, Tarutung, atau Padangsidempuan – taksinya tidak pakai argo dan tidak ada tulisan Taxi di atasnya. Trayeknya juga bukan di dalam kota melainkan antar kota!
Sistim pembayaran taksi yang disebut belakangan tadi sama seperti kalau kita mau naik bis. Tidak harus mencarter tapi bisa bayar orang per orang. Kita juga tidak perlu datang ke loket atau agen untuk memesan atau membeli tiket. Cukup lewat telpon, beritahu kapan minta dijemput, sebutkan alamat, maka taksi akan datang ke rumah kita.
Urusan pembayaran diselesaikan setelah kita dikumpulkan di pool atau agen perusahaan taksi bersangkutan. Jumlah penumpang kurang dua atau tiga orang tidak menjadi masalah karena taksi tetap diberangkatkan.
Taksi biasanya diberangkatkan sekitar pukul sembilan malam. Dengan lama perjalanan delapan jam, biasanya pagi-pagi subuh sudah sampai tujuan. Ini satu lagi kelebihan taksi antar kota: penumpangnya diantar sampai ke alamat! Tak ada tambahan biaya – kecuali kalau alamatnya di luar kota.
Karena kelebihan-kelebihan itulah maka taksi-taksi antar kota banyak dipilih oleh masyarakat di sana. Lebih mahal sedikit tapi lebih nyaman daripada naik bis besar yang lamban dan banyak berhenti.

Dijemput Langsung Dari Rumah
Sibolga adalah kota di mana untuk pertama kalinya saya mengenal taksi. Karena harus ke Medan – ibukota provinsi yang jaraknya 349 km di utara – maka saya bertanya kepada rekan kerja, “Di sini bis apa yang paling nyaman kalau mau ke Medan?”
Soalnya sudah kebiasaan saya di Jawa kalau mau bepergian ke luar kota selalu pakai perusahaan bis yang full AC, tidak banyak berhenti, nyaman, dan pelayanannya prima. Berangkatnya pun harus malam hari sehingga pagi hari sudah sampai ke tujuan.
Rekan yang saya tanya malah berkata, “Naik taksi saja, Pak.”
“Carter maksudnya? Wah, mahal dong!”
Rekan tadi mengangkat gagang telpon, memutar nomor-nomor, kemudian terdengar berkata, “Nanti malam satu orang ke Medan, bisa? Bangku di samping supir masih ada? Oke, oke, jemput di mess pemda, atas nama Pak Erik. Jangan lupa ya!”
Lalu kepada saya berkata, “Nanti malam setengah sembilan Bapak dijemput. Tunggu saja di mess.”
Malamnya, baru pukul delapan lewat seperempat terdengar klakson berulang-ulang di depan rumah. Sebuah sedan datsun model lama dengan tulisan Bengawan Taksi di sisi pintu depannya berhenti tanpa mematikan mesin. Supirnya keluar sambil menanyakan apa betul saya mau ke Medan. Setelah dijawab iya, serta merta kedua tas saya dibawa dan dimasukkan bagasi.
“Mari, Pak, masih empat lagi yang harus dijemput.”
Saya duduk di samping supir yang mengamati secarik kertas kecil dengan penerangan lampu kabin. Itulah daftar nama dan alamat calon penumpang yang harus dijemputnya. Setelah semuanya terangkut, taksi kembali lagi ke pool. Di pool, para penumpang turun untuk mengurus tiketnya masing-masing.
Mekanismenya memang begitu. Calon penumpang tidak perlu datang ke pool atau loket. Cukup dengan menelpon saja. Juga tidak perlu membayar panjar atau uang muka. Semua diselesaikan sesaat sebelum pemberangkatan.
Tentu saja terkadang ada calon penumpang yang membatalkan kepergiannya. Bisa karena mendadak sakit atau ada keperluan lain. Tapi itu tidak menjadi masalah. Kalau ada calon penumpang lain yang menunggu di pool, dia bisa dimasukkan dalam daftar penumpang. Kalau tidak ada, “Tetap berangkat,” kata juragan taksinya. “Anggap saja resiko. Lagipula kalau tidak jadi diberangkatkan, kepercayaan penumpang terhadap kami bisa berkurang.”
Kemungkinan adanya penumpang baru untuk mengisi bangku yang kosong selalu ada karena mereka punya agen cabang di kota-kota yang dilewati sepanjang perjalanan Sibolga-Medan. Misalnya di Tarutung, Pematangsiantar, atau Tebingtinggi.

Diantar Sampai Depan Rumah
Biasanya taksi diberangkatkan pukul sembilan malam. Ini sudah diperkirakan sesuai dengan jam tempuh dan istirahat makan setengah jam sehingga tiba di kota tujuan menjelang pagi hari. Karena itu menjadi pemandangan biasa ketika pada pukul sembilan malam berbondong-bondong taksi bergerak meninggalkan Kota Sibolga. Demikian juga pada subuh hari, berbondong-bondong taksi dari Medan memasuki Sibolga.
Supir taksinya dibekali dengan surat jalan yang mencantumkan daftar nama penumpang dan tujuan masing-masing. Jangan kaget kalau supirnya bukan supir yang menjemput tadi. Supir yang menjemput tadi biasanya disebut supir raun yang tugasnya memang cuma raun-raun – alias keliling-keliling – menjemput calon penumpang.
Kalau naik taksi dari Sibolga ke Medan, maka tempat pemberhentian pertama biasanya di Kota Tarutung. Kota kecil berhawa dingin ini dipilih sebagai tempat istirahat karena jalur Sibolga-Tarutung terkenal dengan tikungan-tikungan tajamnya yang melelahkan. Padahal jaraknya hanya 66 Km. Tapi karena jalannya sempit, berliku-liku, dan banyak dihiasi tikungan tajam, jarak tempuhnya bisa sampai dua jam.
Sementara supir taksinya minum kopi panas sambil ngobrol dengan sesama supir taksi lain, penumpang bisa membeli oleh-oleh berupa Kacang Sihobuk – kacang garing khas kota tersebut. Kacangnya renyah dan dijamin tidak ada di kota lain. Penumpang juga tidak usah ragu makan banyak-banyak. Tidak usah kuatir bakal muntah karena jalur bertikungan sudah tidak ada.
Selanjutnya taksi meluncur mulus dengan kecepatan tinggi melewati Siborong-borong, Balige, Porsea, Parapat – kota di tepian Danau Toba – dan akhirnya Pematang Siantar. Jarak sejauh 155 km itu biasanya juga ditempuh dalam dua jam! Jalannya memang lurus dan mulus. Penumpang biasanya juga tertidur sehingga sering tidak menyadari kalau taksinya istirahat lagi di Pematangsiantar.
Supir taksi biasanya sudah mengantisipasi pukul berapa sebaiknya tiba di pool Kota Medan. Sebab kalau terlalu pagi kadang-kadang petugas pool atau supir raun-nya belum datang. Karena itu tidak jarang di Tebingtinggi taksi diistirahatkan lagi dan supirnya masuk ke rumah makan sekedar untuk tidur!
Dari Tebingtinggi memang tinggal 80 km lagi ke Kota Medan. Itu bisa ditempuh dalam waktu paling lama satu setengah jam saja. Jalannya juga nyaris tanpa hambatan apa-apa. Karena itu supir lebih suka tidur dulu daripada nanti menunggu lama di pool.
Memasuki daerah Amplas di luar Kota medan, penumpang biasanya sudah memberi tahu kepada supir minta diantar ke mana. Kalau alamat yang dituju berada sebelum pool taksi – biasanya di daerah Teladan – maka supir utama yang akan mengantarkan. Tapi kalau alamatnya setelah pool, supir taksi akan turun di pool, sementara tugas mengantar selanjutnya dilakukan supir raun.
Karena tujuan saya biasanya ke hotel, maka saya selalu minta diantar belakangan. Dengan cara begitu saya bisa mengenal jalan-jalan di Kota Medan. Saya menikmati bagaimana taksi menyusuri jalan besar dan kecil yang masih sepi, mengantar penumpang satu per satu sampai depan pagar rumah, bahkan terkadang ikut membantu memencet bel rumah untuk memastikan penumpangnya telah sampai dengan selamat.

Diprotes Tukang Becak
Sampai awal 1990-an taksi merupakan sarana transportasi favorit bagi sebagian warga Sibolga. Mereka yang punya urusan bisnis ke Medan banyak menggunakan taksi. Selain cepat, sistim reservasinya juga praktis. Tinggal telpon, dijemput, berangkat, sampai tujuan diantar ke alamat.
Pada awalnya taksi-taksi didominasi mobil jenis sedan dengan penumpang maksimal lima orang. Barangkali itu sebabnya disebut taksi karena mirip dengan taxi-taxi yang berseliweran di Jakarta. Nama-nama seperti Bengawan Taksi, Indah Taksi, dan Pelita Taksi sangat akrab bagi masyarakat di sana. Karena kelihatan bisnis tersebut menjanjikan prospek cerah, beberapa tahun kemudian – sekitar tahun 1993 – bermunculan perusahaan-perusahaan taksi sejenis tapi menggunakan kendaraan tipe colt L-300 yang bisa memuat delapan orang.
Maka setiap pukul sembilan malam berseliweranlah nama-nama seperti Simpati, Palagan, SBI, Bhineka, CN 2000, Citra Nasional, SMJ, dan beberapa nama lain meramaikan dunia pertaksian di Sumatera Utara. Beberapa di antaranya juga membuka trayek Padangsidempuan-Medan. Disusul kemudian trayek Sibolga-Padang, dan belakangan Padangsidempuan-Pekanbaru.
Maraknya perusahaan taksi yang muncul menunjukkan bisnis ini menguntungkan. Trayek yang dilayani pun makin beragam. Selain antar kota atau antar provinsi, ada juga yang melayani sampai ke kota kecamatan. Misalnya Aek Mais yang melayani rute Padangsidempuan-Natal, atau Anatra melayani Padangsidempuan-Kotanopan. Bahkan Sibolga-Padangsidempuan yang hanya berjarak 80-an km dilayani sampai dua perusahaan taksi. Hampir tiap jam armada mereka bersicepat mengantarkan penumpang.
Kehadiran taksi-taksi untuk jarak pendek tadi sempat memicu protes dari para pengemudi becak karena pendapatan mereka jadi berkurang. Logikanya memang jelas. Untuk apa lagi naik becak kalau taksi-taksi itu mau menjemput dan mengantar penumpang? Toh pada akhirnya penumpang adalah raja. Mereka bebas memilih sarana transportasi yang lebih cepat, efisien, dan tidak bertele-tele.

 

Jumat, 07 Mei 2010

Belanja di Kantor Pajak

Pada suatu kesempatan saya berkunjung ke Kota Pematang Siantar – sekitar 128 Km selatan Medan. Menjelang memasuki kota, kiri-kanan jalan didominasi perkebunan kelapa sawit dan perkebunan karet.
Saya menginap di sebuah desa di Kecamatan Tanah Jawa dan saat terbangun di pagi hari merasa sedang berada di sebuah desa di Jawa. Orang-orang saling berbicara dengan bahasa Jawa, anak-anak pergi ke sekolah dengan mengayuh sepeda bersama-sama, dan sarapan pagi dengan tempe goreng disertai urap – lalapan yang dibubuhi parutan kelapa muda. Sehabis sarapan, Bapak Tuan Rumah bersiap ke sawah dengan cangkul di pundak dan caping – topi bambu berbentuk kerucut – di kepala. Sementara sang ibu memakai kain dan berkata, “Saya tinggal dulu ke pajak ya, Dik.”
“Pagi-pagi begini?” tanya saya.
“Kalau belanja ya harus pagi-pagi. Kalau kesiangan nanti tidak dapat apa-apa.”
“O, pasarnya dekat kantor pajak ya?”
Teman saya tertawa. Ternyata yang dimaksud pajak itu ya pasar. Jadi kalau bilang mau ke pajak, bukan berarti mau ke kantor pajak, melainkan mau belanja ke pasar. Uniknya hampir sebagian pasar di kota-kota di Sumatera Utara dinamai Pajak Horas.
Wah, kalau begitu paling enak pegawai Kantor Pajak yang bertugas di Sumatera Utara. Sambil kerja ngurusi pajak penghasilan orang lain, bisa sambil sekalian belanja... di pajak betulan!

 

Pasarnya Cuma Jalan Raya

Dalam satu kesempatan saya berkunjung ke Binjai, kota kecil yang terletak sekitar 27 Km ke arah barat luar kota Medan. Jalannya mulus dan ada bis kota yang melayani Medan-Binjai tiap hari. Alamat yang saya tuju hanya menyebutkan Pasar II nomor 38 Binjai. Meskipun begitu saya percaya tidak akan sulit menemukannya – karena Binjai tidaklah terlalu besar – kurang lebih sama dengan Sibolga.
Turun dari bis kota saya langsung memanggil becak motor yang sudah berkerumun mencari penumpang. “Ke pasar dua, Bang!” kata saya sambil duduk santai di bangku penumpang.
Teori saya sederhana saja. Yang namanya pasar pasti ramai, setidak-tidaknya becaknya terkena kemacetan. Jadi setelah pasar yang kedua baru saya memperhatikan nomor rumah di kanan jalan.
Ternyata setelah sekian lama pasarnya tidak terlewati juga. Saya mulai resah. Apalagi jalannya semakin sepi. Rumah-rumah semakin jarang. Kiri-kanan cuma kebun melulu. Akhirnya saya bertanya kepada tukang becak, “Pasarnya masih jauh, Bang?”
Becaknya langsung berhenti. “Pasar dua ya ini, Mas.”
“Lho, yang mana pasarnya?”
“Kalau di sini yang namanya pasar itu ya jalan. Pasar dua artinya jalan yang kedua. Nomor rumahnya berapa, Mas?”
Saya menyebutkan nomor yang dimaksud.
Becak berbalik arah dan tak sampai lima menit kemudian rumah yang dicari sudah ketemu – walaupun ‘pasarnya’ tidak. Untunglah sebutan pasar untuk menyebut jalan itu biasanya berakhir kalau jalannya sudah diberi nama oleh pemerintah. Kalau tidak, kasihan tukang becak. Bakal susah mengingat-ingat kalau sampai ada ‘pasar sembilan puluh tujuh’ misalnya.
Setahun kemudian saya mengikuti diklat di Pondok Buluh – sebuah hutan pendidikan milik Dinas Kehutanan Pematang Siantar – sekitar 16 Km ke arah Parapat. Asramanya terletak di tengah hutan pinus, tiga kilometer dari jalan raya. Pada suatu hari minggu saya ingin jalan-jalan ke kota Siantar. Untuk memastikan saya bertanya kepada penjaga asrama.
“Ikuti saja jalan itu, Pak. Nanti kalau sudah sampai pasar hitam, naik bis yang ke kiri. Bis apa saja. Pasti sampai Siantar.”
Saya mengikuti petunjuknya. Karena sudah pernah punya pengalaman sebelumnya, saya tidak begitu kaget sewaktu jalannya berakhir di tepi jalan raya. Itulah pasar hitam, jalan besar beraspal hitam mulus yang menghubungkan Medan dengan kota-kota lainnya di Sumatera Utara…


 

Kamis, 06 Mei 2010

Becak Sumatera Lebih Familiar


Apa bedanya becak Tegal dengan becak Solo?
Dilihat dari fisiknya, becak Tegal tampak ‘kontet’. Ruang penumpang seperti melesak ke bawah. Dalam posisi duduk santai, lutut dan dada penumpang nyaris sejajar. Pengayuh becak di bagian belakang duduk dengan posisi lebih tinggi sehingga dengan mudah melihat jalan di depannya.
Sementara becak Solo terkesan gemuk dan gembrot. Kesan itu barangkali karena sisi kiri dan kanan yang menggelembung. Bangku penumpang agak tinggi sehingga kita laksana duduk di kursi kantor. Kalau penumpangnya wanita dan memakai kain, becak harus ditunggingkan ke depan agar penumpang dapat naik dengan nyaman. Kedudukan pengayuh dan penumpang yang nyaris sejajar menyebabkan pengayuh harus berdiri atau mendongakkan kepala kalau melewati jalan berlubang agar leluasa melihat ke depan.
Pertanyaan kedua: apa bedanya becak di Jawa dengan becak di Sumatera Utara?

Lebih Familiar
Awal tahun 1990 adalah saat pertama kali saya berkenalan dengan becak Sumatera. Begitu turun dari bis di Terminal Sibolga – pagi-pagi sekali – sekelompok tukang becak sudah berkerumun menawarkan jasanya. Becaknya tidak kontet seperti becak Tegal, tidak juga gembrot seperti becak Solo. Ukuran becaknya biasa-biasa saja. Cuma posisi pengayuh becak berada di samping kanan tempat penumpang.
Jadi sambil berbecak ria, kita bisa ngobrol dengan pengayuhnya yang mungkin sedang ngos-ngosan. Apalagi kalau kebetulan tukang becaknya bisa ngomong Jawa, wah, makin kerasan kita dibuatnya. Tapi walaupun ada yang bisa bicara Jawa, mereka jarang yang asli dari Pulau Jawa. Kebanyakan ya pujakesuma alias putra Jawa kelahiran Sumatera, yaitu lahir di Sumatera dari orangtua yang asli Jawa.
Kalau penumpang dan pengayuhnya sama-sama orang Sumatera, maka martarombo-lah mereka, ngobrol soal silsilah marganya masing-masing. Tetapi sebagian besar pengayuh becak di Sibolga didominasi oleh orang Nias, salah satu etnis di Sumatera Utara yang dikenal sebagai pekerja keras. Wajah mereka mirip orang Cina, agak sipit dan berkulit putih. Sayangnya bahasa mereka terdengar ruwet dan sulit dipahami.
Becak Sumatera merupakan gabungan antara sepeda dengan gerobak. Di antara keduanya dihubungkan dengan dua pipa besi. Kalau becak di Jawa dikelompokkan dalam kendaran roda tiga, maka becak di Sumatera mestinya masuk kelompok roda empat. Sebab rodanya memang empat, dua roda sepedanya dan dua lagi roda gerobaknya.
Sayangnya becak Sumatera yang lebih familiar dan lebih friendly ini bakal tidak punya tempat di Jakarta. Bentuknya yang lebih lebar menyita lebih banyak tempat. Apalagi kalau mengayuh becaknya sambil martarombo, bisa-bisa diklakson mobil lain di sepanjang jalan.

Dari Harley Sampai Sekuter
Becak khas Sumatera Utara menguasai hampir seluruh kota-kota besar di provinsi tersebut. Kita bisa melihatnya berseliweran di kota-kota seperti Sibolga, Pematang Siantar,  Padang sidempuan, Medan, bahkan sampai ke Banda Aceh. Mereka biasanya hilir mudik di tengah-tengah kota yang relatif datar. Untuk ke luar kota tersedia becak mesin –   becak juga tapi digerakkan oleh tenaga sepeda motor.
Dengan becak mesin perjalanan memang menjadi lebih cepat. Tapi ongkosnya juga menjadi lebih mahal, sebab bahan bakarnya memakai bensin – bukan sekedar nasi bungkus saja. Sayangnya becak mesin menjadi tidak familiar lagi karena tidak mungkin berbincang-bincang dengan pengemudinya saat becak melaju kencang.
Untuk urusan becak mesin ini, kota Pematang Siantar terkenal dengan motor-motor besarnya. Jadi kalau kita naik becak di sana, kita seperti dikawal oleh Harley Davidson. Becak mesin di Siantar memang digerakkan oleh sepeda motor ber-CC besar model Norton atau BSA. Motor-motor keluaran jaman Jepang itu ternyata masih eksis meskipun banyak sparepartnya yang terpaksa dimodifikasi sendiri.
Pengemudi becak mesin di Sibolga lebih beruntung karena sepeda motornya bukan motor besar  keluaran jaman rekiplik. Kebanyakan didominasi oleh  sepeda motor Honda GL 100 atau sebangsanya. Demikian juga becak mesin di Banda Aceh, tenaga penggeraknya menggunakan sepeda motor keluaran lama – tapi tidak sekuno becak Siantar. Yang unik adalah becak mesin yang lalu-lalang di kota Padangsidempuan. Motor penggeraknya menggunakan sekuter!
Iutlah sebabnya kenapa anak-anak muda di Padangsidempuan jarang yang mau berjalan-jalan mengendarai sekuter. Soalnya kalau ketemu teman-teman atau gadis cantik suka diledek, “Eh, becak Bapakmu kamu copot ya?”

Sumber foto: transport.atvisit.com/becak-medan