Kamis, 26 Mei 2011

Gelombang (Tanpa) Cinta

Jalan-jalan di hutan kadang memang mengejutkan. Suka ketemu hal-hal yang tidak terduga. Seperti misalnya mendengar suara-suara satwa yang aneh-aneh, menemukan kondisi alam yang jarang diberitakan, atau melihat tumbuh-tumbuhan berbagai bentuk dan berbagai ukuran. Hutan alam menyimpan bukan hanya pohon-pohon berukuran besar, tapi juga tumbuhan non kayu yang daunnya lebar-lebar. Seperti yang fotonya terlihat berikut ini.

Kalau tidak salah tumbuhan inilah yang dinamakan sente (Alocasia macrorrhiza) sejenis talas raksasa. Jadi masih ada hubungan kekerabatan dengan talas bogor (Colocasia esculenta). Di daerah Parung, daun talas sente populer sebagai pakan gurami. Caranya dengan dilemparkan utuh-utuh ke tengah kolam begitu saja, dan si gurami akan menggerogotinya sampai tinggal tulang daunnya.


Salah seorang yang ikut saya berkomentar, bahwa pohon talas sente itu juga bisa jadi tren tanaman hias baru kalau dipublikasikan secara benar. “Liat saja daunnya, mirip gelombang cinta kan? Kalau gelombang cinta bisa berharga jutaan, kenapa sente tidak?”

“Betul juga ya?” kami mengangguk-angguk membenarkan. Dan akhirnya sepakat mengambil beberapa anakannya untuk dibudidayakan di persemaian. Karena nama sente terdengar kurang gaul, maka kami memberikan julukan bagi tanaman itu dengan nama : Gelombang (Tanpa) Cinta ....

Sabtu, 30 April 2011

Tetap Bugar di Tengah Rimba

Bagi sebagian besar orang, kehidupan di tengah hutan seringkali dibayangkan serba menyeramkan. Komentar pertama yang sering saya dengar saat seseorang tahu bahwa saya bekerja di tengah hutan adalah, “Ih, serem ya Mas? Banyak ularnya ya Mas?”

Komentar itu tidak sepenuhnya salah, meski juga tidak sepenuhnya benar.
Kehidupan di tengah belantara, meski terpencil dari mana-mana, tetap saja memiliki fasilitas yang memadai. Tidak ada bedanya dengan sebuah komplek perusahaan. Ada kantor, ada bengkel, ada perumahan karyawan, ada sarana ibadah, bahkan juga sarana berolahraga.

Kurangnya sarana rekreasi menjadikan olahraga menjadi salah satu alternatif untuk relaksasi. Hampir di setiap base camp selalu memiliki lapangan luas di tengah-tengahnya. Di lapangan itulah para karyawan – dan terutama para istri karyawan, ini uniknya – mengisi saat-saat senggang dengan berolahraga.



Meski lapangannya bisa untuk sepakbola, tapi olahraga yang paling populer justru volley ball. Alasannya karena lapangan volley tidak terlalu luas, murah meriah, dan jumlah pemain yang enam orang tidak sulit dikumpulkan. Cukup dengan satu bola dan sepatu apa adanya, mereka dapat berolahraga sambil bergembira sambil mengusir kepenatan kerja.


Ibu-ibu istri karyawan biasanya mulai berkumpul pukul empat sore. Pukul setengah lima biasanya suara riuh dan tepukan mulai menggema. Lewat pukul lima sore – yang merupakan akhir jam kerja – suasana di lapangan volley tambah rame. Karyawati putri ikut bergabung. Disusul karyawan pria membentuk sesi pertandingan tersendiri di lapangan lainnya.


Tidak ada aturan yang membatasi regu pemain. Siapa pun boleh bergabung selama masih ada tempat. Bahkan bagi yang tidak hobi bermain volli pun, datang ke lapangan merupakan hiburan tersendiri. Setidaknya bisa memanjakan mata dan sama-sama mendapatkan manfaat dari olahraga. Sehat jasmani, sehat rohani....

Selasa, 05 April 2011

Camp Tarik


Pernah mendengar istilah camp tarik? 
Camp tarik adalah sebutan buat rumah-rumah pekerja yang berada di tengah hutan. Setiap satu camp tarik biasanya dihuni satu orang operator buldoser, dua operator chainsaw, satu tukang kupas, satu juru ukur, satu surveyor, dan kadang ada juga tukang masaknya.
Masing-masing punya tugas dan tanggungjawab sendiri.

Urutan pekerjaannya begini. Operator chainsaw menebang pohon sesuai kriteria yang diijinkan. Setelah pohon tumbang, operator buldoser menariknya ke tempat pengumpulan. (Kalau di HPH istilahnya TPN alias tempat pengumpulan). Juru ukur mengukur dimensi batang yang sudah dipotong-potong, berapa diameternya, berapa panjangnya, berapa kubikasinya, dan mencatatnya dalam buku ukur sebagai bahan laporan.
Kalau tukang kupas, tugasnya mengupas kulit kayu agar tidak diserang hama serangga bubuk. Jadi tugasnya menjaga kualitas kayu tetap baik. Sementara surveyor bertugas mengawasi dan menunjukkan lokasi lebang yang diijinkan. Soalnya kalau tidak diawasi, penebangan suka melebar ke arah yang salah. Lokasi tebang sudah ada ijinnya masing-masing dan diperbarui setiap tahun dalam bentuk RKT (Rencana Kerja Tahunan). Sebetulnya batas lokasi tebang sudah ditandai dengan rintisan jalur dan cat merah. Tapi tahu sendirilah, operator chainsaw ngeliatnya ke atas terus. Jadi batasnya suka terlewati.



Disebut camp tarik karena bangunannya memang bisa ditarik-tarik. Artinya bisa dipindah-pindah sesuai kebutuhan mengikuti lokasi tebangnya. Bentuknya berupa rumah papan yang dibangun di atas dua bantalan kayu bulat. Kalau lokasi penebangan berpindah, bantalan tinggal diikat dengan sling (kawat baja) dan ditarik oleh buldoser. Mirip seperti karavan tapi lebih primitif karena tidak pakai roda.

Belakangan proses menarik ini dianggap kurang praktis karena selain merusak jalan, juga merusak bangunan itu sendiri. Bayangkan camp tarik yang beberapa kali berpindah tempat, saat ditarik siku-siku bangunannya banyak yang bergeser. Perlahan tapi pasti, guncangan sepanjang perjalanan bisa menghancurkan rumah itu sendiri.

Sekarang rumahnya tidak ditarik tapi dimuatkan di atas logging truck alias truk pengangkut kayu. Dengan cara begitu rumah jadi lebih awet, jalan jadi lebih terawat, dan penghuninya bisa tetap berada di tempat karena guncangan tidak terlalu keras. Tapi meski proses perpindahannya tidak lagi ditarik, rumah-rumah semacam itu tetap saja populer sebagai camp tarik....

Kamis, 10 Maret 2011

Saat Musim Hujan Tiba....





Apa yang paling dirisaukan pekerja di hutan?
Musim hujan!
Karena pada musim hujan, tidak ada yang bisa dikerjakan. Cuaca buruk dan kondisi jalan yang licin menjadi kendala. Operasi penebangan tidak aman dilaksanakan karena angin kencang bisa merubah arah jatuhnya pohon. Operasi pengangkutan juga tidak mungkin dilakukan karena jalan menjadi licin dan penuh resiko. 

Mulai dari resiko terpuruk, 
 

Atau hujan berhari-hari yang bisa membuat mobil terbenam lumpur, 



 





Jadi, apa yang paling disukai pekerja di hutan?
Musim hujan juga! 
Karena musim hujan identik dengan libur panjang. Identik dengan istirahat sampai cuaca menjadi kondusif. Identik dengan minum kopi dan main catur, sampai cuaca cerah kembali…




Selasa, 07 Desember 2010

Lalu Lintas Sungai

 Di hampir sebagian besar tempat di Kalimantan, sarana trasportasi air masih menjadi pilihan utama. Penggunaan speedboat dan kelotok merupakan pemandangan sehari-hari. Meski banyak ruas jalan aspal telah dibangun, sebagian besar masyarakat yang mendiami kampung-kampung di sepanjang pesisir sungai, masih mengandalkan sarana transportasi air untuk berbagai keperluan mereka.









Sebagaimana layaknya jalan raya, river highway pun punya rambu-rambu lalulintas yang harus dipatuhi segenap pemakai aliran air. Tanda lalulintas yang paling sering terlihat adalah tanda adanya persimpangan, baik yang tegak lurus maupun bercabang. Ini menjadi petunjuk para driver speedboat ataupun kelotok untuk berhati-hati terhadap kemungkinan munculnya perahu dari arah lain.



Tanda yang khas dan mungkin tidak dijumpai di jalan raya adalah tanda gelombang yang berarti perahu harus mengurangi kecepatan atau kalau perlu berhenti agar gelombang yang ditimbulkan tidak mengganggu pengguna air lainnya. Tanda ini biasa dipasang menjelang pemukinan tepi sungai atau pada kawasan yang lalulintas airnya padat. Perahu dengan kecepatan tinggi (misalnya speedboat) umumnya menimbulkan riak gelombang yang cukup besar. Gelombang ini bisa merusak tiang-tiang rumah yang dilewati. Bahkan dalam beberapa kasus, bisa menenggelamkan sampan atau perahu kayuh yang ukurannya relatif lebih kecil.

Yang tidak pernah terlihat di sungai apa ya?
Polisi tidur, barangkali....


Jumat, 19 November 2010

Orangutan, The Real Actor Of Tanjung Puting


 
Taman Nasional Tanjung Puting tidak pernah sepi pengunjung. Meskipun harus berlama-lama di atas perahu kelotok, toh pengunjung – terutama turis asing – datang silih berganti. Apa yang mereka cari? Apa yang ingin mereka lihat?

Orangutan!


Primata dengan nama ilmiah Pongo pygmaeus ini, memang merupakan primadona di sana. Kera besar yang juga disebut mawas ini ditemukan di hutan hujan tropika di malaysia dan Indonesia (khususnya di Kalimantan dan Sumatera). Hasil penelitian menyebutkan bahwa orangutan memiliki hubungan kekerabatan yang termasuk dekat dengan manusia pada tingkat kingdom animalia, dimana orangutan memiliki tingkat kesamaan DNA sebesar 96,4%.


Barangkali inilah yang menjelaskan mengapa tingkah laku orangutan banyak kemiripannya dengan manusia. Dan dengan asumsi yang sama pula bisa dijelaskan kenapa kita begitu menyukai mahluk yang satu ini. Jadi tidaklah mengherankan jika orang rela datang jauh-jauh ke Tanjung Puting untuk sekedar melihat dari dekat – bahkan kalau bisa foto bersama – dengan mahluk berlengan panjang dan berbulu kemerah-merahan itu.




Ada satu tip yang perlu diingat jika Anda berkunjung ke Tanjung Puting : jangan membawa makanan ke dalam kawasan orangutan. Mereka sangat sensitif dengan bau makanan, yang terbungkus plastik sekalipun. Bukan sekali dua kali terjadi ada orangutan yang tiba-tiba sudah berada di dalam kelotok (yang diparkir di pinggir sungai) karena mencium aroma masakan, atau merangkul kaki pengunjung karena membaui ada sesuatu yang bisa dimakan dari kantungnya!





Dalam keadaan seperti itu, tidak perlu cemas tidak perlu panik, berikan saja apa yang mereka mau. Jangan membuat gerakan yang mengejutkan karena mungkin justru akan membuat oangutan semakin beringas.

Bagaimana?
Anda juga tertarik untuk berfoto bersama mereka?

Tanjung Puting, Primadona Kalimantan Tengah






Tanjung Puting, barangkali bukanlah nama yang terlalu asing, meski juga tidak terlalu akrab bagi mereka yang terbiasa tinggal di kota besar. Diresmikan sebagai Taman Nasional sejak 12 Mei 1984, kawasan seluas hampir 415.040 Ha itu dikenal sebagai pusat pelestarian Orangutan (Pongo pygmaeus) yang masuk dalam katagori satwa langka di Indonesia.



Adalah Birute Galdikas – seorang peneliti dari Kanada – yang mempopulerkan kawasan Tanjung Puting sebagai pusat kehidupan primata orangutan pada tahun 1971. Kepopulerannya banyak menarik minat wisatawan asing untuk berkunjung ke sana. Hampir bisa dikatakan bahwa sebagian besar pengunjung Tanjung Puting adalah turis-turis asing.

Perjalanan menuju taman nasional dimulai dari Pelabuhan Kumai – sekitar 14 km dari Pangkalan Bun. Dari situ kita bisa memilih apakah akan menggunakan speedboat atau perahu kelotok. Speedboat dapat memuat sampai lima penumpang dengan ongkos sewa selama satu hari sebesar 500 ribu dan lama perjalanan sekitar satu setengah jam.
Tapi kalau pesertanya lumayan banyak (di atas 10 orang) lebih baik sewa perahu kelotok saja.

“Pake kelotok lebih enak,” kata petugas di kantor taman nasional. “Lebih santai, jadi bisa menikmati pemandangan di sepanjang kiri kanan jalan.”
Memang betul, karena jika menggunakan kelotok waktu tempuhnya menjadi sekitar empat jam! Meskipun terasa lama dan membosankan, ternyata banyak turis asing yang lebih menyukai pilihan ini, karena mereka bisa menikmati suasana hutan di sepanjang Sungai Sekonyer yang berair kehitam-hitaman itu.



“Pada pagi dan sore hari kita bisa melihat sekumpulan monyet dan kera di pepohonan kiri kanan sungai,” kata Syarifudin yang menjadi pemandu kami. “Kalau beruntung juga bisa ketemu buaya yang lagi berjemur di tepian.”


Biaya sewa kelotok antara 800 ribu sampai satu juta – tergantung kesepakatan. Bisa memuat sampai 15 orang. Sekarang ini pengunjung bisa memlih sistim paket. Misalnya satu juta lima ratus untuk sewa kelotok plus jasa pemandu dan tiket masuk. Ditambah 25 ribu per orang untuk makan siang dan snack sore hari. Jadi pengunjung tinggal terima beres saja. Nyaman kan?
Dan jangan kaget lho, meskipun kelotok, kamar kecilnya pakai kloset duduk! Maklum standar internasional....


Perjalanan dimulai sekitar pukul enam pagi, menyusuri Sungai Kumai yang lebar dan berair kecoklatan. Satu jam kemudian memasuki muara Sungai Sekonyer airnya masih coklat karena pengaruh penambangan emas di atasnya. Satu setengah jam kemudian kita tiba di Pos Tanjung Harapan (sekitar 20 Km dari Kumai) tempat melaporkan diri. Sepuluh kilometer dari Pos Tanjung Harapan ada Camp Tangui tempat rehabilitasi orangutan remaja. Di sini kita bisa singgah untuk melihat acara pemberian makan yang dilakukan antara pukul 09.00 – 10.00 pagi.

Semakin ke atas sungainya semakin kecil, airnya semakin gelap yang merupakan ciri khas kawasan hutan gambut. Tumbuhan nipah, pandan, dan bakung mendominasi sepanjang aliran sungai. Sekitar dua jam kemudian sampailah kita di Camp Leakey yang menjadi pusat riset dan rahabilitasi orangutan dewasa. Di sana terdapat pusat informasi dan arena pemberian makan (feeding site).


Di sanalah – pada tengah hari antara pukul 14.00 – 14.30 – pengunjung duduk dan menyaksikan belasan orangutan turun dari pucuk-pucuk pepohonan untuk menyantap hidangan berupa buah-buahan dan susu yang memang disediakan untuk mereka. Kesempatan ini banyak dimanfaatkan untuk mengambil foto-foto orangutan dalam berbagai polah dan gayanya. Atau, hmmm, Anda tertarik untuk ikut makan bersama? Boleh saja, asal jangan menghabiskan jatah mereka....