Tampilkan postingan dengan label HPH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HPH. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Maret 2014

Kabut, Kabut, dan Kabut….


 

Apa yang selalu hadir tanpa diminta setiap hari?
Tentu saja banyak pilihan jawabannya. Di antaranya adalah sinar matahari yang suka atau tidak suka, perlu atau tidak perlu, selalu menyapa setiap pagi.  Jika pertanyaan itu diajukan kepada pekerja di tengah hutan, jawabannya mungkin saja adalah hijaunya pepohonan. Jika diajukan kepada pekerja di tengah hutan yang berada pada ketinggian antara 100 sampai 500 meter di atas permukaan laut, dengan curah hujan rata-rata mencapai 195 mm setiap bulan, dan jumlah bulan basah antara lima sampai tujuh  bulan per tahun, jawabannya bisa jadi adalah kabut.


Ya, bagi pekerja di tengah hutan, kabut adalah pemandangan sehari-hari. Terlebih lagi di musim hujan, di mana kabut sudah muncul pagi-pagi sekali dan bisa bertahan sampai pukul delapan atau sembilan pagi. Ketika rekan-rekan sejawat di Jawa sana harus rela bermacet ria menuju kawasan puncak hanya untuk melihat kabut, di hutan sana para pekerja lapangan hanya perlu membuka korden jendela saat segerombolan kabut menyergap dari mana-mana.







Mereka bisa sambil duduk santai di teras, ditemani sebatang rokok dan secangkir kopi, sambil menunggu cahaya matahari untuk sekedar memanaskan badan, meski terbitnya matahari seringkali tidak sanggup menembus tebalnya kabut. Alih-alih mencerahkan suasana pagi, sinar matahari kadang ibarat bulan di balik awan. Setelah ditunggu beberapa lama, kadang hanya sanggup memecah kumpulan kabut menjadi serpihan kapas putih terapung-apung pada beberapa tempat.

 














Jadi, apa yang bisa kita lakukan jika setiap hari dikepung kabut?
Just enjoy it. Nikmati saja. Rasakan saja. Terima saja sebagai sajian alam yang belum tentu masih bisa kita nikmati di lain hari. Tidak perlu dipikirkan benar. Karena pada akhirnya kabut akan memudar seiring tingginya hari, meski juga akan kembali menyapa di keesokan hari….



 

Sabtu, 25 Januari 2014

Paku S

Ada yang pernah mendengar istilah Paku S ?
Bagi orang awam, istilah paku S barangkali membingungkan. Yang selama ini didengar paling-paling istilah paku triplek, paku seng, atau paku payung.  Namun bagi kalangan pekerja kehutanan, paku S merupakan istilah yang akrab, terutama yang berkaitan langsung dengan bagian produksi.

Sesuai namanya, paku S adalah paku berbentuk huruf S. Tapi berbeda dengan paku biasa, paku yang satu ini ditancapkan secara horizontal. Paku S digunakan untuk mencegah agar retak atau rekah pada bontos kayu tidak semakin melebar.


 


Kayu-kayu di hutan kita sangat rentan terhadap kemungkinan retak atau pecah. Pada saat pohon tumbang, hantaman keras ketika menghunjam permukaan tanah sangat mungkin menyebabkan pecahnya batang. Terlebih lagi jika posisi jatuhnya menimpa bebatuan atau permukaan yang tidak rata. Retakan tersebut akan terlihat pada penampang kayu bulat ketika sudah dipotong dan ditumpuk di lokasi pengumpulan kayu. Jika dibiarkan, retak tersebut semakin lama akan semakin bertambah panjang. Apalagi kayu mengalami beberapa kali bongkar muat sebelum sampai ke lokasi pengumpulan akhir.



Disitulah paku S memainkan perannya. Dan ada pekerja khusus yang menangani bagian itu, biasanya bekerjasama dengan tukang kupas kulit. Jika tukang kupas berbekal sebatang linggis, tukang paku S bekerja dengan sebatang godam alias palu besar di tangannya. Paku S ditancapkan dalam-dalam mengikuti arah retakan. Jumlahnya tergantung kebutuhan. Dengan pemasangan paku S ini diharapkan retakan tidak semakin melebar sehingga mutu dan volume kayu tetap terjaga. Sebab jika retakan semakin merekah, masuknya serangga perusak semakin sulit dicegah. Belum lagi bagian yang harus dibuang – saat masuk mesin pengolahan – akan mengurangi nilai jual dari kayu itu sendiri….








 
 

Senin, 28 Oktober 2013

Berpacu Dalam Debu

 
Seperti pernah diceritakan sebelumnya, bagi pekerja sektor kehutanan, musim hujan adalah masalah karena kegiatan operasional terhenti. Kegiatan penebangan terhenti dan sarana transportasi tidak berfungsi. Jika musim hujan merupakan masalah, apakah ini berarti musim kemarau merupakan berkah? 


Ya, berkah bagi yang bekerja sebagai operator di bagian produksi kayu karena kubik demi kubik mengalir ke kantung mereka. Pemilik chainsaw, operator traktor, dan supir logging truck menikmati keuntungan karena hasil kerja mereka dengan lancar dikeluarkan dari hutan. Dengan tidak adanya hujan, jalanan kering, setinggi apapun tumpukan kayu bulat di tempat penimbunan dengan mudah diangkut nyaris tanpa sisa. Dalam satu hari bisa lima sampai enam kali logging truck bolak balik menyusuri jalan angkutan yang bisa mencapai ratusan kilometer panjangnya. Proses pengangkutan itu bisa berlangsung sampai malam. Dengan kondisi jalan angkutan yang tidak diaspal, bisa dibayangkan dampak berupa kepulan debu di sepanjang jalan. Debu kecoklatan menempel di ujung-ujung daun dan mengendap lama di atap rumah. Menjadi sangat tidak menyenangkan manakala kita melakukan perjalanan di tengah kepulan debu dalam kendaraan tanpa AC. Kalau kaca ditutup jadi pengap, tapi kalau dibuka berarti membiarkan debu masuk dari segala penjuru.





Maka seperti inilah pemandangan yang bisa kita nikmati. Para pengguna jalan seolah sedang mengikuti Rally Paris Dakar di gurun pasir Afrika. Kendaraan roda enam, roda empat, dan sepeda motor berebut tempat di antara debu yang bertebaran setiap kali berpapasan atau dilewati kendaraan lain. Penumpang mobil roda empat generasi baru barangkali masih bisa tersenyum dalam kesejukan AC mereka. Tapi bagaimana dengan colt diesel yang kacanya tidak bisa diturunkan atau penumpang angkutan umum kelas ekonomi yang jendelanya kadang tidak ada?

 
Di antara itu semua tentu saja pengendara sepeda motor yang paling menderita. Mereka harus melengkapi diri dengan jaket, kaus kaki, kacamata, dan sarung tangan – bahkan kalau perlu memakai jas hujan di bawah terik matahari. Dengan segala upaya itu pun tidak berarti bisa berkendara dengan lebih nyaman. Bukan hanya debu yang musti diwaspadai. Pandangan mata yang terhalang debu menyulitkan kontrol kendaraan. Belum lagi lubang jalanan yang tersamar oleh timbunan debu dengan ketebalan bisa mencapai satu jengkal. Belum lagi resiko tersenggol truk besar yang seringkali tidak menyadari ada kendaraan kecil di sebelahnya meski lampu depan sudah dinyalakan.

 
 Lepas dari dari itu semua masih ada resiko-resiko lain yang menunggu, yaitu tambahan biaya ekstra untuk membersihkan saringan udara, jadwal mencuci pakaian lebih sering dari biasanya, dan ada kemungkinan terkena gangguan saluran pernapasan….

Kamis, 06 Juni 2013

Mengupas Kulit, Mengupas Masa Depan



Pernahkah Anda mendengar ada orang yang berprofesi sebagai pengupas kulit kayu?
Kedengarannya aneh, tapi profesi itu memang nyata. Jika di pantura ada yang sehari-harinya bekerja sebagai pengupas kulit bawang, jauuuh di pedalaman sana ada orang yang menggantungkan hidupnya sehari-hari dari hasil mengupas kulit pohon!



Tentu saja pohon yang dikupas bukanlah pohon yang masih berdiri tegak melainkan batang-batang log (atau kayu bulat) hasil penebangan yang sudah dikumpulkan di tempat penumpukan. Sebagaimana hasil alam lainnya, kayu juga rentan terhadap serangan berbagai macam serangga. Macam-macam jenisnya. Mulai dari kutu penggerek kulit kayu (Ernobius mollis), kumbang bubuk (Lyctus brunneus) yang menggerogoti isi kayu dan meninggalkan tanda berupa serbuk halus di sepanjang liangnya, sampai kumbang pengebor (Euophryum sp.) yang hobinya membuat lubang malang melintang di seantero penjuru batang. Karena itu kayu-kayu yang sudah terkumpul harus segera dikuliti sebelum serangga-serangga perusak berdatangan. Tujuannya tentu saja untuk menjaga mutu log, karena kayu yang rusak otomatis kualitasnya ikut menurun. Turunnya kualitas pada akhirnya akan berakibat pada rendahnya nilai jual kayu itu sendiri.



Para pekerja yang disebut sebagai Tukang Kupas Kulit itu (istilah kerennya debarker), bekerja hanya bermodalkan sebatang linggis atau tembilang plus kemampuan untuk menahan panas terik yang bisa seharian menerpa punggung. Bayangkan saja bagaimana mereka berada di tempat terbuka, menguliti batang demi batang dengan berbagai tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Setiap kayu memiliki karakteristik kulit yang tidak sama. Kayu kapur atau kamper (Dryobalanops aromatica) sangat mudah dikupas karena pada dasarnya memang memiliki kulit yang mengelupas seperti pohon kayu putih (Eucalyptus sp.). Batang meranti (Shorea sp) meskipun ketebalan kulitnya mencapai 3 sentimeter, tapi penampang membujurnya saling berhubungan sehingga dengan satu kupasan di ujung batang -- bayangkan pelepah pisang – mengupas sisanya cukup hanya dengan sentakan ringan saja. Tapi jenis-jenis seperti kempas, keruing, medang, atau kayu campuran lainnya, mengupas satu batang memerlukan kesabaran ekstra karena struktur kulitnya yang cenderung terputus-putus.

 
Berapa imbalan yang diperoleh Tukang Kupas Kulit setiap hari? Tarifnya berkisar antara seribu sampai dua ribu per meter kubik, tergantung jenis pohonnya. Jadi kalau satu hari bisa menguliti 20 batang dengan volume rata-rata 5 m3, bisalah di tukang kupas mengantungi sekitar dua ratus ribu rupiah per hari. Cukup untuk makan sehari-hari dan sedikit tabungan untuk hari tua.

Anda berminat mencoba?  

Senin, 04 Maret 2013

Sekolah Alam yang Sesungguhnya…

 

Apakah di camp ada sekolah? Pertanyaan ini pernah diajukan oleh seorang rekan, dan jawabannya bisa ya bisa tidak. Perusahaan-perusahaan besar yang memahami pentingnya sumber daya manusia, biasanya menyediakan sekolah di lokasi base camp. Sarana belajar tersebut dibangun seluruhnya oleh perusahaan. Bahkan guru-gurunya pun digaji perusahaan. Ada yang murni bekerja sebagai pengajar, ada juga yang paruh waktu, dalam arti tercatat sebagai karyawan kantor tapi pada siang atau sore hari menjadi guru di sekolah tersebut. Murid-muridnya terutama anak para karyawan, meski tidak tertutup kemungkinan ada juga anak masyarakat di sekitar camp yang ikut bersekolah di situ.

 

Tapi ada juga perusahaan yang tidak menyediakan sarana belajar untuk anak-anak karyawannya. Pertimbangannya bisa karena jumlah anak-anak yang sedikit, bisa karena tidak jauh dari camp ada perkampungan yang sudah memiliki sekolah. Jika di camp atau di kampong terdekat tidak ada sekolah – apaboleh buat – anak-anak harus ‘dikeluarkan’ dari lingkungan camp begitu memasuki usia belajar. Jika ada keluarga yang bisa dititipi, cukuplah si anak yang dikirim ke kampung dalam pengasuhan tante atau neneknya. Jika tidak ada wali murid – apaboleh buat – sang ibu harus rela berpisah dengan suaminya demi masa depan anak yang lebih baik.

  

Karena berada di lingkungan base camp, apa yang dilihat murid tidak jauh dari suasana operasional perusahaan. Truk-truk raksasa bermuatan kayu-kayu besar menjadi pemandangan sehari-hari. Kadang-kadang mereka juga menumpang truk tersebut jika kebetulan sedang kosong muatan. Jika tidak ada truk yang lewat, berjalan kaki menyusuri jalan angkutan kayu terpaksa harus dijalani. Bersekolah di pedalaman identik dengan sekolah di alam liar. Jalan setapak dengan rumput setinggi lutut harus dilalui, rawa-rawa dengan air menghitam harus diseberangi, dan segerombol burung rangkong (Buceros rinocheros) berkaok-kaok di atas langit mengiringi upacara pagi hari. Ketika di kota banyak yang antusias menyekolahkan anaknya di sekolah alam karena pola pengajaran yang berbeda, jauuuh di pedalaman sana anak-anak tidak perlu memilih karena berada di sekolah alam yang sesungguhnya….  

Sabtu, 05 Januari 2013

Antar Kota Antar Cuaca


Camp kami berada di tempat yang tinggi. Meski tampilan pada layar GPS hanya menunjukkan sekitar 200 meter di atas permukaan laut, tapi kami merasa sudah berada di tempat yang paling tinggi. Ini bisa dibuktikan dengan suhu yang dingin, kabut yang selalu muncul setiap malam, serta pemandangan langit yang membentang di depan mata. Kami menyebutnya Puncak Dunia.






Di atas kami hanya ada langit, sementara di bawah ada perbukitan dan hutan yang menjadi pemandangan sehari-hari. Pemandangannya pun selalu berubah-ubah. Kadang biru terang tanpa awan, kadang ada awan putih bergumpal-gumpal, kadang langit diselimuti warna gelap kelabu pertanda akan turun hujan, kadang putih merata diiringi gerimis tanpa henti. Perubahan cuaca yang tidak terduga tersebut kadang merepotkan, tapi juga terkadang menakjubkan. Bayangkan betapa sibuknya para mandor angkutan (di sana disebut Mandor Hauling) yang sudah memerintahkan Logging Truck untuk berangkat ke blok tebangan, harus bergegas menjemput para supir satu persatu karena ternyata di blok hujan deras, padahal di base camp panas terik. Bayangkan juga bagaimana para karyawan kantor harus berlarian lintang pukang menyelamatkan pakaian yang sudah terlanjur dijemur karena tadinya cuaca sangat terik, lalu dalam sekejap berubah menjadi gelap gulita pertanda hujan akan menyapa.

 

Rasa takjub itu muncul manakala kami duduk-duduk di depan kantor camp sambil memandangi perubahan cuaca yang biasanya berlangsung cepat dan seringkali dramatis. Pada saat cuaca di atas camp sangat cerah, di bawah sana justru sudah turun hujan. Atau sebaliknya, saat kami merasakan tempias air memasuki teras kantor, di seberang sana malah terang benderang. Sering kami berdiri di teras kantor, menunjuk jauh ke depan sambil berkata, “Eh lihat, di Somad (nama camp tetangga – pen.) sudah hujan….” Di kejauhan, di seberang bukit, tampak dengan jelas air tercurah dari awan gelap yang sejak beberapa menit sebelumnya menghiasi langit. Hujan itu bisa tiba-tiba berubah menjadi cerah kembali saat sinar matahari – entah darimana – muncul membelah langit. Dan kalau sedang beruntung, kami bahkan bisa menikmati hadirnya pelangi yang seolah muncul dari belakang mesjid, atau – wow! – kilat putih menyambar memecah kegelapan.



Tidaklah mengherankan apabila perjalanan menyusuri areal hutan sepanjang hampir 60 Km dapat menghadirkan beragam kondisi cuaca. Sebentar panas cerah, sesaat diterpa gerimis, kemudian cerah lagi, lalu berkabut, kemudian hujan deras mengguyur sepanjang sisa perjalanan. Kalau di Pulau Jawa ada istilah bis AKAP (atau Antar Kota Antar Provinsi), maka di camp sana mestinya ada AKAC alias Antar Kota Antar Cuaca ….  



 

Senin, 03 Desember 2012

Jangan Lupa Bawa Sinyal ….


 

Jual hape?
Bukan. Gambar itu bukan diambil di konter hape melainkan di teras barak pekerja camp. Penempatan hape tersebut juga bukan berarti pemiliknya memajang karena hape-nya basah atau sebab lain. Ini menandakan bahwa di tempat tersebut ada sinyal yang bisa digunakan untuk berkomunikasi. Rak kayu sengaja dibuat untuk memudahkan menempatkan hape. Karena apabila hape dipindah, sinyalnya bisa saja menghilang. Jangankan dipindah, bergesar tempat saja kadang sinyalnya langsung berkurang menjadi tinggal satu atau dua bar.



Gambar tersebut diambil di salah satu camp yang kebetulan letaknya tidak jauh dari pemukiman atau tower BTS. Di camp-camp yang lain, yang jauh dari pemukiman, karyawannya harus bersabar hati jika ingin berkomunikasi. Yang menarik adalah, meskipun di beberapa camp terdapat sinyal, jangkauannya kadang berupa spot-spot yang menyebar. Di dalam spot itulah sinyal bisa ditangkap, dan luasnya kadang hanya radius dua atau tiga meter saja. Menjauh dari titik tersebut sinyal mendadak blank. Tidak usah heran jika melihat ada yang bertelepon sambil berjalan hilir mudik ke sana ke mari. Tujuannya tentu saja untuk mendapatkan penangkapan sinyal yang lebih baik. Tidak masalah jika untuk itu harus berjalan merunduk-runduk, atau duduk dengan posisi canggung. Yang penting suara jelas dan komunikasi lancar.







Ada salah satu base camp yang beruntung memiliki tiga spot sinyal. Satu di kantor, satu di persemaian, satu lagi di depan dapur umum. Sinyal yang ada di kantor berada di jendela belakang. Itu sebabnya di sana karyawan menempatkan hape-nya masing-masing sehingga kalau ada nada sms atau telpon masuk bisa langsung terdengar. Begitu terdengar nada sambung, hampir semua karyawan menoleh. Kalau nada sambungnya khas, dengan segera pemilik hape akan bergegas. Kalau nada sambungnya sama (kadang mereka tidak mengubah nada default), yang merasa memiliki nada tersebut juga menoleh untuk memastikan hape siapa yang berbunyi. Kalau ternyata ruang kerja pemilik hape berada jauh dari jendela belakang, maka segera terdengar teriakan mendayu, “Hetiiiiiiiii …… Telepoooooon ….” Maka Si Heti akan bergegas meninggalkan meja kerjanya, berpacu dengan waktu agar nada panggil tidak keburu berhenti.


Juga menjadi pemandangan menarik ketika malam hari seusai jam makan, halaman dapur umum dipenuhi karyawan yang hendak menelpon. Waktu pertama kali berada di sana, saya sempat heran melihat kerumunan begitu banyak orang, menunduk-nunduk seperti mencari sesuatu yang jatuh di tanah. “Lagi nyari sinyal, Om….” kata seseorang menjelaskan. “O begitu…”, kata saya dalam hati. “Kirain lagi nyari laron…” Sebetulnya di persemaian juga ada sinyal tapi tempatnya lumayan jauh. Selain itu nyamuknya juga minta ampun, pada berebutan ingin ikut bertelepon ria.



Karena itu, jika Anda berencana berkunjung ke base camp yang tidak memiliki akses sinyal, ingatlah selalu akan dua hal. Pertama, lupakan untuk bertelepon ria selama berada di sana. Atau, jika kebutuhan bertelepon tidak bisa dihindari, jangan lupa untuk membeli sinyal di konter terdekat …  

Sabtu, 27 Oktober 2012

Mari Menghibur Diri di Base Camp ....

“Jika ada yang bilang hidup di camp itu menyenangkan, kemungkinan besar dia sedang stress. Tapi jika kita tidak bisa menciptakan suasana yang menyenangkan saat berada di camp, kita pun dipastikan bakal stress....” 

Demikian salah satu pepatah yang berlaku di camp. Entah siapa yang mengatakan, entah betul atau tidak, pepatah itu mempunyai makna bahwa betah tidaknya kita di camp tergantung dari kemampuan kita sendiri dalam menghadapi keadaan. Jika kita dari awal sudah melihat camp sebagai tempat yang menyiksa – misalnya jauh dari mana-mana, hiburan susah, apa-apa mahal, sinyal tidak ada, suasana monoton, dan lain-lain – maka bisa dipastikan kita tidak akan betah berlama-lama tinggal di camp. Tapi jika sejak awal kita melihat camp sebagai tempat yang menyenangkan – misalnya udaranya segar, airnya jernih, ikan sungai tidak perlu beli, daging rusa tinggal dicari, jauh dari polusi, bebas dari agen asuransi, tidak ada yang minta sumbangan, tidak ada pengamen, tidak perlu bawa dompet kemana-mana – maka suasana sepi dan terisolir memiliki makna yang berbeda. Banyak cara yang bisa dilakukan, dan ini sangat tergantung pada minat dan hobi masing-masing. Berikut adalah beberapa bentuk hiburan – dan cara menghibur diri sendiri – yang selama ini dilakukan para campmania.

1. Nonton Tivi. Ini pilihan yang paling umum di camp. Pulang kerja pukul 17.00, mandi dan makan malam, setelah itu duduk manis di depan tivi. Bisa di ruang tv umum yang disediakan perusahaan, bisa nonton di rumah masing-masing. Dengan bantuan parabola 12 feet semua saluran dapat tampil. Bukan hanya saluran tivi nasional seperti TV-One atau RCTI, tapi juga saluran tivi daerah seperti JatimTV, BaliTV, atau TV Papua. Siaran tivi asing juga tidak masalah. Al-Jazeera, NHK, ataupun siaran berbahasa portugal dengan mudah bisa diakses meski mungkin hanya dipahami gambarnya saja. Langganan tivi kabel juga bisa kalau mau.



2. Memelihara burung. Bagi penggemar burung berkicau, camp memanjakan penghuninya dengan beberapa jenis burung yang sudah dikenal memiliki suara merdu. Yang umum dipelihara adalah kelompok burung dari genus Copysychus sp. seperti murai batu yang kecoklatan, murai daun yang berwarna hijau, atau kacer yang bulunya hitam putih. Burung – baik anakan maupun dewasa – dapat dipesan dari para operator chainsaw yang setiap hari berada di hutan. Kadang-kadang ada juga masyarakat sekitar yang masuk hutan dengan tujuan berburu burung. Biasanya mereka menggunakan burung yang sudah pintar berkicau untuk memikat burung yang masih liar. Maka sangkar burung pun menjadi hiasan teras, berjejer di sepanjang barak pekerja. Merupakan pemandangan yang biasa ketika di pagi hari para burungmania membersihkan sangkar dan mengganti air minum, sementara mereka sendiri mungkin belum sempat mandi....

 
3. Memancing. Ini juga pilihan bagi yang hobi memancing. Hutan menyediakan sungai dan kantung-kantung air untuk dimanfaatkan sebagai arena memancing. Kantung-kantung air itu – di sana disebut embung – bisa berupa rawa tergenang, bisa juga merupakan danau dengan debit air tidak terlalu besar. Ikan-ikan yang umum diperoleh dari sana adalah baung (Mystus wyckii), lele (Clarias nieuhofii), atau pepuyu (sejenis sepat). Di hutan tersedia sungai dengan air jernih mengalir tanpa henti dengan berbagai jenis ikan di dalamnya. Banyak macamnya, mulai dari ikan somah (Tor tambra), barakas (Cylocheilichthys sp.), dan entah apa lagi yang bentuknya menyerupai karper (Cyprinus sp.). Cara mencarinya dengan dipancing atau dijala. Sebetulnya paling praktis dengan ditombak saat malam hari. Tapi di hulu-hulu sungai Kalimantan, cara itu kurang populer karena masih terdapatnya buaya yang kadang terlihat di palung-palung sungai.

 

4. Pesta Duren. Setiap tahun – biasanya antara november sampai februari – adalah musim duren. Pohon duren – baik yang tumbuh liar maupun yang ditanam masyarakat – berbuah serentak. Sebagian dikirim ke kota, sebagian ditawarkan kepada pekerja camp. Untuk duren seukuran buah kelapa, pada awal-awal musim dihargai antara 10 ribu sampai 20 ribu sebuah. Tapi semakin membanjir produksi duren, semakin murah harga yang ditawarkan. Itulah saatnya para pekerja camp menikmati pesta duren. Satu karung duren berisi 20 butir kadang hanya dihargai 50 ribu rupiah. Karena duren cenderung meningkatkan tekanan darah, kami biasanya memakan rame-rame. Pertama untuk membagi rata resiko naiknya tensi. Kedua kalau besoknya ada yang demam karena kebanyakan duren setidaknya tidak sendirian.... 

 5. Nonton Bareng. Istilah nobar bukan hanya terdapat di kota-kota saja. Di camp pun pekerja bisa menikmati acara nonton bareng. Kalau sudah memasuki musim Piala Dunia atau Piala Eropa, jadwal pertandingan menjadi acuan yang berharga. Dengan bantuan InFokus, tayangan dari tivi disalurkan ke layar putih yang dibentangkan di halaman. Penonton tinggal memilih tempat duduk, membawa sendiri kopi atau cemilan, bisa sambil berkerudung sarung, bisa sambil merokok, bisa sambil menepuk agas (sejenis nyamuk berukuran halus) yang kadang iseng mengganggu....


6. Jalan-jalan ke air terjun. Hutan menyediakan potensi alam yang kadang tidak terduga. Air terjun, misalnya. Di sana air terjun bisa dinikmati lengkap dengan batu-batu dan ular di antaranya. Maka berjalan-jalan menikmati air terjun menjadi salah satu pilihan mengisi waktu luang. Padahal yang bisa dilakukan di sana paling-paling ya hanya duduk-duduk di atas batu, mandi atau bermain air, berfoto-foto, atau sekedar makan siang bersama, tapi tetaplah menyenangkan sebagai selingan. Yang menjadi masalah adalah lokasi air terjun kadang berada jauh di tengah hutan. Untuk mencapai ke sana kita harus berjalan menyusuri jalan setapak atau tepian sungai sejauh satu atau dua kilometer. Menyenangkan bagi yang gemar berpetualang karena sepanjang jalan bisa menikmati suara air, bau daun segar, kicau burung, atau lengkingan monyet di ketinggian. Agak merepotkan bagi yang tidak terbiasa berpetualang karena lintah pacet dan serangga penyengat seringkali ikut menemani perjalanan.


7. Panggung Dangdut. Hiburan yang satu biasanya diadakan setahun sekali pada malam pergantian tahun. Panggung dibangun mendadak dengan drum kosong sebagai landasan, lembaran papan sebagai lantai, dan terpal sebagai atapnya. Artis yang tampil pun hanya organ tunggal dengan dua atau tiga orang penyanyi lokal berpakaian seronok. Koleksi lagu-lagunya didominasi dangdut koplo. Lumayanlah untuk sekedar mengusir penat, melupakan kerja keras selama setahun terakhir, dan berharap tahun depan hasil yang diperoleh bisa lebih baik lagi....  

Jumat, 31 Agustus 2012

Hujan Lagi, Hujan Lagi....


Seperti yang sudah pernah diceritakan sebelumnya, hujan adalah musuh utama pekerja di hutan. Pada saat hujan turun, semua aktifitas secara spontan dihentikan. Dan ini berlaku mulai dari ujung kegiatan (di tengah hutan) sampai ke ujung lainnya (di logpond atau logyard).

Aktifitas di base camp terbatas hanya di kantor dan bengkel saja, itu pun pada saat jam kerja. Di luar itu bisa dikatakan libur total. Apalagi kalau hujan turun berkepanjangan sampai malam hari, wah, makin bete saja penghuni camp. Keluar rumah tidak bisa, nonton tivi kadang suaranya kalah oleh gemuruh hujan – karena umumnya bangunan camp menggunakan atap seng. Belum lagi kalau posisi base camp berada di tempat rendah. Meski berada di ketinggian, banjir mungkin saja terjadi. 


Para penebang atau chainsaw man dilarang melakukan kegiatan penebangan karena hujan dan angin bisa mengubah arah jatuhnya pohon. Ini akan menimbulkan resiko kecelakaan bagi pekerja. Belum lagi tanah yang licin dapat menyulitkan operator saat menghindari berubahnya arah rebah.
Unit kendaraan berat seperti Logging Truck yang mengangkut log juga dilarang beroperasi saat jalanan basah. Secara teknis, kendaraan bisa saja dioperasikan, tapi dampaknya akan merusak jalan. Memperbaiki jaringan jalan yang rusak jauh lebih merepotkan daripada membuka jalan baru. Karena itu apabila mendadak hujan turun, operator logging truck harus menghentikan kendaraannya. Jika posisinya kurang strategis – misalnya pada tanjakan atau turunan – bisa mencari tempat yang lebih stabil. Kemudian menunggu sampai ada unit kecil datang menjemput. Apabila kondisi cuaca sudah memungkinkan, supir akan diantar oleh unit kecil untuk melanjutkan perjalanan.


Unit kecil seperti Strada, Triton atau L200 tidak begitu terpengaruh dengan jalan licin karena mereka dilengkapi Double Gardan yang memang diperuntukkan bagi medan berat. Selama tidak keluar dari bahu jalan, tidak apa-apa. Masalah akan timbul kalau ada unit besar yang terpuruk melintang jalan, karena otomatis jalur di belakangnya akan terhambat.


Juga perlu diwaspadai apabila jalur jalan melintasi sungai berbatu. Naiknya permukaan air akibat hujan di hulu sungai dapat menghadirkan banjir bandang yang bisa menghanyutkan kendaraan kecil. Permasalahan semakin bertambah karena kendaraan generasi terbaru hampir semuanya dioperasikan secara elektris. Dalam beberapa kasus, tekanan air dari luar secara otomatis membuat semua fungsi kendaraan terkunci. Karena itu bagi penumpang unit kecil pada saat menyeberangi sungai dianjurkan untuk tetap membuka jendela samping. Ini untuk berjaga-jaga agar penumpang bisa segera keluar menyelamatkan diri jika unit terseret air....
 

Rabu, 30 November 2011

Logging Truck


Gambar kendaraan seperti terlihat di atas disebut logging truck. Kendaraan ini digunakan khusus untuk mengangkut kayu bulat (log). Heavy Equipment ini dapat memuat kayu bulat sampai 40 meter kubik atau setara dengan 50 ton kayu gelondongan!
Bagian belakang dibuat tanpa pembatas agar mudah menaik-turunkan kayu. Hanya ada tiang penyangga di kanan kiri badan truk, untuk menjaga agar muatan tidak jatuh.

Di kalangan pekerja hutan, truk semacam itu populer dengan sebutan ‘trailer’. Sebutan trailer ini diberikan karena truk mempunyai gandengan. (Logging truck yang tidak mempunyai gandengan disebut engkel). Gandengan itu bisa dilepas dan dipasang sesuai kebutuhan. Pada saat bermuatan, gandengan dipasang supaya truk bisa menampung kayu bulat dengan kisaran panjang sampai 16 meter. Pada saat tanpa muatan, gandengan dilepas dan dinaikkan di bak belakang sehingga truk dapat melaju lebih nyaman.

















Sambungan belakang dipindahkan dengan alat berat lain yang populer disebut kepiting. Nama resmi kendaraan tersebut adalah Loader.
Sesuai namanya, loader digunakan untuk membongkar dan memuat kayu gelondongan dari atau ke atas logging truck. Ada dua macam loader, yaitu Wheel Loader yang memakai ban karet seperti terlihat dalam gambar. Ada juga Track Loader yang menggunakan ban rantai seperti bulldozer atau tank baja. Track Loader lazim digunakan untuk daerah pemuatan dengan kondisi becek atau ekstrem.


Bagaimana memindahkan gandengan supaya bisa nangkring dengan nyaman di bagian belakang logging truck, bisa dilihat dalam rangkaian gambar berikut.