Tampilkan postingan dengan label hutan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hutan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Maret 2014

Kabut, Kabut, dan Kabut….


 

Apa yang selalu hadir tanpa diminta setiap hari?
Tentu saja banyak pilihan jawabannya. Di antaranya adalah sinar matahari yang suka atau tidak suka, perlu atau tidak perlu, selalu menyapa setiap pagi.  Jika pertanyaan itu diajukan kepada pekerja di tengah hutan, jawabannya mungkin saja adalah hijaunya pepohonan. Jika diajukan kepada pekerja di tengah hutan yang berada pada ketinggian antara 100 sampai 500 meter di atas permukaan laut, dengan curah hujan rata-rata mencapai 195 mm setiap bulan, dan jumlah bulan basah antara lima sampai tujuh  bulan per tahun, jawabannya bisa jadi adalah kabut.


Ya, bagi pekerja di tengah hutan, kabut adalah pemandangan sehari-hari. Terlebih lagi di musim hujan, di mana kabut sudah muncul pagi-pagi sekali dan bisa bertahan sampai pukul delapan atau sembilan pagi. Ketika rekan-rekan sejawat di Jawa sana harus rela bermacet ria menuju kawasan puncak hanya untuk melihat kabut, di hutan sana para pekerja lapangan hanya perlu membuka korden jendela saat segerombolan kabut menyergap dari mana-mana.







Mereka bisa sambil duduk santai di teras, ditemani sebatang rokok dan secangkir kopi, sambil menunggu cahaya matahari untuk sekedar memanaskan badan, meski terbitnya matahari seringkali tidak sanggup menembus tebalnya kabut. Alih-alih mencerahkan suasana pagi, sinar matahari kadang ibarat bulan di balik awan. Setelah ditunggu beberapa lama, kadang hanya sanggup memecah kumpulan kabut menjadi serpihan kapas putih terapung-apung pada beberapa tempat.

 














Jadi, apa yang bisa kita lakukan jika setiap hari dikepung kabut?
Just enjoy it. Nikmati saja. Rasakan saja. Terima saja sebagai sajian alam yang belum tentu masih bisa kita nikmati di lain hari. Tidak perlu dipikirkan benar. Karena pada akhirnya kabut akan memudar seiring tingginya hari, meski juga akan kembali menyapa di keesokan hari….



 

Rabu, 08 Mei 2013

Langit Adalah Lukisan Alam


Langit adalah lukisan alam.
Langit ibarat kanvas maha besar yang tidak pernah ada habisnya menampilkan lukisan alam berbagai bentuk dari berbagai aliran. Langit seperti lukisan pasir yang selalu berubah-ubah mengikuti kehendak pelukisnya.

 

Apa bedanya langit di perkotaan dengan langit di pedalaman?
Sebetulnya langit di mana pun sama saja. Yang membedakan hanyalah cara kita menikmatinya. Di perkotaan, langit menjadi bagian yang seringkali terlupakan. Pada saat kita mendongak ke atas, atap bangunan dan papan reklame menyita perhatian. Terlalu banyak hal-hal yang dianggap lebih penting daripada sekedar memandangi langit. Pada saat berada di ruangan – bahkan saat berada di dalam bangunan tinggi puluhan lantai pun – kita seringkali tidak menyadari apakah di luar sedang hujan atau terang benderang.

 

Di tengah hutan, langit menjadi satu-satunya hiburan. Langit juga menjadi petunjuk paling akurat dari segala bentuk perubahan suasana. Warnanya bisa berubah-ubah dari gelap ke terang, dari cerah ke kelabu, dan dari tenang menjadi bergejolak. Bahkan saat langit berwarna biru pun, gambar yang muncul bisa berubah dari sekian menit ke sekian menit berikutnya.

 

Melihat perubahan langit semakin mengingatkan betapa tidak berdayanya kita yang hanya ibarat setitik debu di tengah belantara yang sangat luas. Memandang langit sepatutnya membuat kita bersyukur karena masih diberi kesempatan menyaksikan bukti kekuasaanNya, ketika sebagian besar dari kita cenderung melupakannya….


 

Sabtu, 27 Oktober 2012

Mari Menghibur Diri di Base Camp ....

“Jika ada yang bilang hidup di camp itu menyenangkan, kemungkinan besar dia sedang stress. Tapi jika kita tidak bisa menciptakan suasana yang menyenangkan saat berada di camp, kita pun dipastikan bakal stress....” 

Demikian salah satu pepatah yang berlaku di camp. Entah siapa yang mengatakan, entah betul atau tidak, pepatah itu mempunyai makna bahwa betah tidaknya kita di camp tergantung dari kemampuan kita sendiri dalam menghadapi keadaan. Jika kita dari awal sudah melihat camp sebagai tempat yang menyiksa – misalnya jauh dari mana-mana, hiburan susah, apa-apa mahal, sinyal tidak ada, suasana monoton, dan lain-lain – maka bisa dipastikan kita tidak akan betah berlama-lama tinggal di camp. Tapi jika sejak awal kita melihat camp sebagai tempat yang menyenangkan – misalnya udaranya segar, airnya jernih, ikan sungai tidak perlu beli, daging rusa tinggal dicari, jauh dari polusi, bebas dari agen asuransi, tidak ada yang minta sumbangan, tidak ada pengamen, tidak perlu bawa dompet kemana-mana – maka suasana sepi dan terisolir memiliki makna yang berbeda. Banyak cara yang bisa dilakukan, dan ini sangat tergantung pada minat dan hobi masing-masing. Berikut adalah beberapa bentuk hiburan – dan cara menghibur diri sendiri – yang selama ini dilakukan para campmania.

1. Nonton Tivi. Ini pilihan yang paling umum di camp. Pulang kerja pukul 17.00, mandi dan makan malam, setelah itu duduk manis di depan tivi. Bisa di ruang tv umum yang disediakan perusahaan, bisa nonton di rumah masing-masing. Dengan bantuan parabola 12 feet semua saluran dapat tampil. Bukan hanya saluran tivi nasional seperti TV-One atau RCTI, tapi juga saluran tivi daerah seperti JatimTV, BaliTV, atau TV Papua. Siaran tivi asing juga tidak masalah. Al-Jazeera, NHK, ataupun siaran berbahasa portugal dengan mudah bisa diakses meski mungkin hanya dipahami gambarnya saja. Langganan tivi kabel juga bisa kalau mau.



2. Memelihara burung. Bagi penggemar burung berkicau, camp memanjakan penghuninya dengan beberapa jenis burung yang sudah dikenal memiliki suara merdu. Yang umum dipelihara adalah kelompok burung dari genus Copysychus sp. seperti murai batu yang kecoklatan, murai daun yang berwarna hijau, atau kacer yang bulunya hitam putih. Burung – baik anakan maupun dewasa – dapat dipesan dari para operator chainsaw yang setiap hari berada di hutan. Kadang-kadang ada juga masyarakat sekitar yang masuk hutan dengan tujuan berburu burung. Biasanya mereka menggunakan burung yang sudah pintar berkicau untuk memikat burung yang masih liar. Maka sangkar burung pun menjadi hiasan teras, berjejer di sepanjang barak pekerja. Merupakan pemandangan yang biasa ketika di pagi hari para burungmania membersihkan sangkar dan mengganti air minum, sementara mereka sendiri mungkin belum sempat mandi....

 
3. Memancing. Ini juga pilihan bagi yang hobi memancing. Hutan menyediakan sungai dan kantung-kantung air untuk dimanfaatkan sebagai arena memancing. Kantung-kantung air itu – di sana disebut embung – bisa berupa rawa tergenang, bisa juga merupakan danau dengan debit air tidak terlalu besar. Ikan-ikan yang umum diperoleh dari sana adalah baung (Mystus wyckii), lele (Clarias nieuhofii), atau pepuyu (sejenis sepat). Di hutan tersedia sungai dengan air jernih mengalir tanpa henti dengan berbagai jenis ikan di dalamnya. Banyak macamnya, mulai dari ikan somah (Tor tambra), barakas (Cylocheilichthys sp.), dan entah apa lagi yang bentuknya menyerupai karper (Cyprinus sp.). Cara mencarinya dengan dipancing atau dijala. Sebetulnya paling praktis dengan ditombak saat malam hari. Tapi di hulu-hulu sungai Kalimantan, cara itu kurang populer karena masih terdapatnya buaya yang kadang terlihat di palung-palung sungai.

 

4. Pesta Duren. Setiap tahun – biasanya antara november sampai februari – adalah musim duren. Pohon duren – baik yang tumbuh liar maupun yang ditanam masyarakat – berbuah serentak. Sebagian dikirim ke kota, sebagian ditawarkan kepada pekerja camp. Untuk duren seukuran buah kelapa, pada awal-awal musim dihargai antara 10 ribu sampai 20 ribu sebuah. Tapi semakin membanjir produksi duren, semakin murah harga yang ditawarkan. Itulah saatnya para pekerja camp menikmati pesta duren. Satu karung duren berisi 20 butir kadang hanya dihargai 50 ribu rupiah. Karena duren cenderung meningkatkan tekanan darah, kami biasanya memakan rame-rame. Pertama untuk membagi rata resiko naiknya tensi. Kedua kalau besoknya ada yang demam karena kebanyakan duren setidaknya tidak sendirian.... 

 5. Nonton Bareng. Istilah nobar bukan hanya terdapat di kota-kota saja. Di camp pun pekerja bisa menikmati acara nonton bareng. Kalau sudah memasuki musim Piala Dunia atau Piala Eropa, jadwal pertandingan menjadi acuan yang berharga. Dengan bantuan InFokus, tayangan dari tivi disalurkan ke layar putih yang dibentangkan di halaman. Penonton tinggal memilih tempat duduk, membawa sendiri kopi atau cemilan, bisa sambil berkerudung sarung, bisa sambil merokok, bisa sambil menepuk agas (sejenis nyamuk berukuran halus) yang kadang iseng mengganggu....


6. Jalan-jalan ke air terjun. Hutan menyediakan potensi alam yang kadang tidak terduga. Air terjun, misalnya. Di sana air terjun bisa dinikmati lengkap dengan batu-batu dan ular di antaranya. Maka berjalan-jalan menikmati air terjun menjadi salah satu pilihan mengisi waktu luang. Padahal yang bisa dilakukan di sana paling-paling ya hanya duduk-duduk di atas batu, mandi atau bermain air, berfoto-foto, atau sekedar makan siang bersama, tapi tetaplah menyenangkan sebagai selingan. Yang menjadi masalah adalah lokasi air terjun kadang berada jauh di tengah hutan. Untuk mencapai ke sana kita harus berjalan menyusuri jalan setapak atau tepian sungai sejauh satu atau dua kilometer. Menyenangkan bagi yang gemar berpetualang karena sepanjang jalan bisa menikmati suara air, bau daun segar, kicau burung, atau lengkingan monyet di ketinggian. Agak merepotkan bagi yang tidak terbiasa berpetualang karena lintah pacet dan serangga penyengat seringkali ikut menemani perjalanan.


7. Panggung Dangdut. Hiburan yang satu biasanya diadakan setahun sekali pada malam pergantian tahun. Panggung dibangun mendadak dengan drum kosong sebagai landasan, lembaran papan sebagai lantai, dan terpal sebagai atapnya. Artis yang tampil pun hanya organ tunggal dengan dua atau tiga orang penyanyi lokal berpakaian seronok. Koleksi lagu-lagunya didominasi dangdut koplo. Lumayanlah untuk sekedar mengusir penat, melupakan kerja keras selama setahun terakhir, dan berharap tahun depan hasil yang diperoleh bisa lebih baik lagi....  

Minggu, 01 Juli 2012

Ada Penanaman Setelah Penebangan

Dalam dunia HPH, ada tiga macam kegiatan penanaman.

Penjelasan ini perlu untuk menghindari terjadinya salah pengertian. Ada anggapan bahwa HPH menebang habis semua pohon yang ada di hutan. Pada kenyataannya hanya pohon dengan diameter tertentu yang diijinkan ditebang. Secara umum HPH hanya diijinkan menebang pohon dengan diameter di atas 50 Cm. Diameter di bawahnya harus ditinggalkan untuk ‘tabungan’ pada rotasi tebang berikutnya.

Begitu juga dengan kegiatan penanaman. Ada anggapan bahwa seluruh areal yang telah ditebang harus ditanami lagi. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Yang harus ditanami hanya areal yang betul-betul terbuka dan tidak memiliki anakan alami. Areal yang betul-betul terbuka biasanya berada di sepanjang jalan angkutan dan di bekas tempat pengumpulan kayu. Di situlah ditanami bibit jenis tanaman kehutanan seperti meranti, bengkirai, atau keruing dengan jarak tanam 3 x 3 meter. Kegiatannya sendiri disebut Penanaman Kiri Kanan Jalan.


Hutan bekas areal penebangan juga harus ditanami lho! Apalagi jika jumlah anakan yang ada dirasakan kurang. Kurangnya anakan itu bisa terjadi karena hutannya dibuka untuk pembuatan jalan angkutan, bisa karena mati akibat proses penebangan itu sendiri. Pernah ada penelitian yang menyebutkan bahwa setiap kali sebatang pohon berdiameter 50 Cm ditebang, ada sekitar 17 anakan yang mati karena tertimpa. Peraturan kehutanan juga pernah mensyaratkan minimal terdapat 25 anakan dalam setiap hektar apabila perusahaan ingin dibebaskan dari kewajiban menanami kembali hutannya.
 
Dalam kenyataannya jumlah anakan di bawah tegakan sangat banyak jumlahnya. Mendapatkan 25 anakan – terlebih dari tingkat semai – bukanlah hal yang sulit. Alih-alih menanami kembali, perusahaan akhirnya memelihara saja anakan yang ada. Lebih praktis, lebih murah, dan lebih terjamin pertumbuhannya daripada harus ditanam sendiri. Kegiatannya sendiri dikenal sebagai Pengayaan karena tujuannya memang untuk memperkaya jumlah dan jenis anakan yang sudah ada.



Selain itu ada lagi yang disebut Penanaman Tanah Kosong atau Penanaman Areal Non Produktif. Sesuai dengan namanya, areal tersebut memang kosong dalam arti tidak memiliki potensi apa-apa. Areal semacam itu dapat berupa semak belukar, hutan muda, atau lokasi terbuka yang dijadikan sarana dan prasarana camp.

Jenis pohon yang ditanami tergantung lokasi. Kalau berada di dalam kawasan hutan yang ditanam adalah bibit tanaman kehutanan. Tapi kalau berada dalam areal non produktif, bisa ditanami tanaman pelindung yang cepat tumbuh semisal sengon, sungkai, jabon, atau mahoni. Bisa juga ditanami pohon buah-buahan. Dalam dunia kehutanan pohon-pohon jenis terakhir biasa disebut dengan tanaman MPTS alias Multi Purposed Trees Species. 



Untuk keperluan itu perusahaan membangun persemaian. Ada yang dibuat di bawah tegakan alam, ada juga yang menggunakan paranet atau sarlon sebagai pelindung. Untuk jenis tanaman kehutanan, bibitnya diambil dari dalam hutan. Bisa berupa biji atau pun cabutan. Karena musim berbunga hanya empat tahun sekali, perusahaan lebih mengandalkan anakan alam. Bibit-bibit muda itu (setinggi sekitar sejengkal) dicabuti dari lantai hutan, kemudian ditanam dalam polybag-polybag, untuk seterusnya dibesarkan di areal persemaian. Setelah cukup umur barulah dikirim ke lokasi-lokasi penanaman.
 
Jadi, jangan berpikir HPH itu hanya menebang saja. Selain menebang juga ada kewajiban untuk menamani kembali. Itulah sebabnya sistim kerja kami dinamakan TPTI (Tebang Pilih Tanam Indonesia). Sistim tadi bermakna: menebang secara selektif sesuai batas diameter minimum dan menanami kembali areal bekas penebangan. Dengan sistim tadi diharapkan hutan Indonesia dapat terjaga kelestariannya.

 

Untuk tujuan itulah, kami – khususnya para rimbawan – berada di sana....  

Senin, 20 Juni 2011

Supir-Supir Perkasa


Kalau saya ditanya, profesi apa yang membuat kagum di tengah belantara, maka serta merta saya akan menjawab: supir!


Bayangkan kondisi seperti ini. Seorang supir – di sana biasa disebut driver untuk supir kendaraan kecil, atau oparator untuk supir alat berat – harus menempuh perjalanan dua sampai tiga jam melintasi kawasan berhutan dengan pemandangan nyaris seragam di sepanjang kanan kiri jalan. Hanya ada pohon, pohon, dan pohon.

 

Jika terjadi suatu keadaan darurat, misalnya ban kempis, mungkin masih bisa pakai ban cadangan. Kalau ban cadangan sudah terpakai dan masih terjadi kempis ban yang lain? Atau kalau kendaraan terjebak dalam kubangan lumpur? Atau mendadak mogok tanpa sebab? Atau mesin tiba-tiba mengepulkan asap? Atau tersangkut di tengah jembatan kayu? Atau tiba-tiba saja tertimpa pohon tumbang?
Kepada siapa akan meminta tolong?
Tidak ada sinyal, tidak ada yang bisa ditelepon. Tidak ada mobil derek, tidak ada mobil polisi yang lewat. Tidak ada bengkel, tidak ada GardaOto, tidak ada Rent-A-Car. Masih untung kalau di dekat-dekat situ ada camp penebang atau regu survey, bisa dimintai tolong untuk sekedar membantu menarik kendaraan. Kalau tidak ada siapa-siapa?



Maka hanya usaha terus menerus dan tak kenal lelah yang bisa dilakukan sang supir. Dengan berbagai cara harus bisa keluar dari kubangan atau menstarter kendaraannya kembali. Usaha itu biasanya berhasil, terutama bagi supir senior yang sudah terbiasa menghadapi keadaan. Tapi terkadang gagal.


Kalau sudah begitu, menunggu adalah satu-satunya pilihan. Biasanya akan ada unit lain yang menyusuri jalan angkutan kalau ada kendaraan yang tidak sampai ke tujuan atau dilaporkan tidak kembali ke pangkalan. Selama menunggu, supir yang kendaraannya terjebak masalah, bisa mengisi waktu dengan tidur atau memandangi langit luas di atasnya....