Tampilkan postingan dengan label pangkalan bun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pangkalan bun. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 April 2013

Pengalaman Naik Pesawat James Bond

Pernah mendengar istilah Pesawat James Bond?
Istilah itu sebenarnya saya ciptakan sendiri ketika untuk pertama kali menaiki pesawat kecil berisi hanya sembilan kursi penumpang. Pada masa itu – tahun 1980-an – pesawat kecil berbaling-baling jenis Twin Otter merupakan satu-satunya sarana transportasi yang menghubungkan kota provinsi dengan kota kabupaten, terutama di pulau-pulau yang minim sarana transportasi darat. Ketika mendarat pertama kali di Bumi Kalimantan pada 1989, nama maskapai penerbangan DAS (Dirgantara Air Services) menjadi satu-satunya pilihan untuk bertolak ke pedalaman. Masih segar dalam ingatan saya saat itu DAS melayani trayek dari Pontianak menuju kota-kota kabupaten seperti Ketapang, Nanga Pinoh, Sintang, dan Putussibau.

Tahun lalu, tanpa diduga saya harus menggunakan pesawat jenis yang sama dalam perjalanan dari Palangka Raya ke Pangkalan Bun. Pesawatnya kecil, dilengkapi dua baling-baling di kiri dan kanan badan pesawat dengan kapasitas sekitar 18 penumpang. Pada saat check-in saya dikejutkan oleh petugas yang menanyakan berat badan. Saya menjawab, “Lima puluh dua kilo.”
Petugas check-in mencatat di buku dan menyerahkan lembaran check-in yang memperlihatkan tanda verifikasi. Tidak ada nomor kursi dan tidak ada nomor gerbang. Untuk bandara sekecil Palangka Raya memang tidak diperlukan nomor gerbang karena hanya ada satu pintu menuju landasan. Demikian juga untuk nomor kursi, tidak diperlukan untuk sedikit penumpang yang bebas duduk di mana saja, persis seperti naik angkutan kota.

Karena tidak ada lagi antrian, iseng saya bertanya, “Mbak percaya berat saya lima puluh kilo?”
Petugas itu mengangkat kepalanya dan menjawab, “Percaya. Karena sesuai dengan tinggi dan postur Bapak.”
“Kalau meragukan?”
“Akan kami timbang ulang.”
“Terus, apa hubungannya dengan penerbangan ini?”
“Pesawat kami punya batas beban maksimum. Jadi kalau berat penumpang dan berat bagasi sudah mendekati batas maksimum, check-in akan kami tutup.”
“Lha, kalau masih ada penumpang lain?”
“Terpaksa kami tolak, dan kami sarankan ikut penerbangan berikutnya.”
Dalam hati saya bersyukur karena memiliki berat normal. Saat itu juga saya teringat rekan kerja yang memiliki bobot jumbo. Terbayang bagaimana paniknya kalau saja dia ditolak naik pesawat karena berat badannya melampaui batas maksimal. Akan lebih panik lagi kalau kami datang bersamaan untuk menaiki pesawat yang sama, tapi hanya saya yang diijinkan masuk ruang tunggu sementara si jumbo harus menunggu hari berikutnya.

Prosedur memasuki pesawat tidak berbeda dengan prosedur seperti biasanya. Tapi jangan berharap ada pramugari cantik yang menunggu di pintu masuk sambil menyapa, “Selamat siang….” Tidak ada. Hanya ada seorang crew duduk di bangku paling belakang, yang berkata dengan nada datar, “Silahkan ….” sambil menyerahkan bungkusan plastik kecil berisi empat butir permen. Penumpang satu per satu memasuki pesawat dan dipersilahkan duduk di bangku-bangku yang tersedia. Jarak antara bangku penumpang dan ruangan pilot sedemikian dekat sehingga dengan jelas bisa kelihatan tangan sang pilot yang sibuk memencet-mencet puluhan tombol yang ada.



Tentu saja juga tak ada pramugari yang memberikan peragaan cara-cara menyelamatkan diri jika terjadi masalah. Peran itu diambil alih oleh pilot atau co-pilot yang menoleh ke arah penumpang, tersenyum manis, sambil berkata, “Selamat siang para penumpang sekalian…. Sebentar lagi kita akan take off…. Mohon kencangkan sabuk pengaman, matikan handphone Anda, dan berdoa menurut keyakinan masing-masing….” Meski tidak ada yang memeriksa barisan demi barisan, para penumpang biasanya mengikuti perintah pilot. Mematikan ponsel, mengencangkan ikat pinggang, membuka plastik kecil yang tadi diberikan crew di pintu pesawat dan menempelkannya di telinga. Belakangan saya baru menyadari bahwa plastik kecil itu bukan hanya berisi permen, tapi juga sepasang sumbat telinga yang berguna untuk mengurangi suara bising mesin pesawat.

Suasana setelah pesawat mengudara hampir sama seperti kalau kita naik pesawat terbang pada umumnya. Hanya saja karena ketinggian jelajahnya yang sekitar sembilan ribu kaki di atas permukaan laut, pemandangan di bawah jendela nampak jelas. Hutan, pepohonan, awan, dan atap-atap bangunan dapat dengan mudah dinikmati dari balik jendela. Itulah enaknya naik pesawat kecil. Tidak enaknya kalau cuaca buruk dan banyak awan hitam bergerombol jalur penerbangan. Pesawat akan berguncang-guncang, persis seperti naik mobil di atas jalan berlubang.


Karena sebab yang sama, guncangan juga sangat terasa saat pesawat landing atau mendarat di atas landasan. Pengumuman yang disampaikan pilot bahwa pesawat akan landing ditanggapi biasa-biasa saja. Sebagian karena umumnya penumpang tertidur, sebagian lagi karena tertelan suara bising. Penumpang baru menyadari sudah mendarat ketika suara bising selama perjalanan langsung hilang begitu mesin pesawat dimatikan. Sumbat telinga dilepas, dan sesaat gendang telinga terasa aneh. Tapi itulah nikmatnya menaiki pesawat James Bond. Ucapan terima kasih dari crew yang membuka pintu belakang terasa nyaman dan melegakan. Lebih melegakan lagi karena kita bisa langsung mengambil koper dari bagasi pesawat. Tidak perlu harus menunggu lama di ruang kedatangan…  

Minggu, 02 Oktober 2011

Berlebaran di berbagai Pelosok Nusantara

Bersekolah di SPMAN Bogor merupakan saat pertama kalinya merantau. Sejak itulah saya hidup terpisah dari keluarga. Dan hal itu ternyata terus berlanjut, karena kemudian saya kuliah di Bandung, diteruskan dengan bekerja berpindah-pindah tempat hampir di seluruh pelosok nusantara..
Kadang-kadang – karena satu dan lain sebab – saya tidak bisa pulang untuk berlebaran bersama keluarga. Suatu kenyataan yang sebenarnya menyedihkan tapi tetap harus dijalani. Kebiasaan dan tradisi berlebaran yang berbeda-beda di banyak tempat, merupakan pengalaman menarik seperti bisa dibaca berikut ini.


Tahun 1989 di Pontianak. Ini pertama kalinya saya merantau ke luar Jawa, ke sebuah perusahaan kayu di wilayah Kalimantan Barat. Karena hampir sebagian besar penghuni camp pulang kampung, kami (saya dan dua rekan seangkatan) ikut-ikutan turun ke Pontianak. Tiba di sana tepat saat beduk dan takbir mengalun di mana-mana. Karena tidak punya sanak saudara, kami menginap di Hotel Patria. Keesokan harinya mengikuti Sholat Ied di sebuah lapangan yang sudah lupa namanya. Usai sholat, karena tidak tahu harus ke mana, kami menghabiskan waktu seharian dengan tidur-tiduran dan nonton tivi di kamar hotel. Sore harinya jalan kaki ke kantor telkom untuk mengirim telegram ke rumah orangtua....

Tahun 1992 berlebaran di Base Camp di Sumatera Utara. Waktu itu baru mulai bekerja sekitar empat bulan, jadi tidak mendapat ijin cuti. Suasana sunyi di tengah hutan menjadi terasa sekali, karena dari seratusan karyawan, hanya kami berenam yang tidak bisa cuti.
Bayangkan, enam orang di tengah hutan belantara!
Kami yang tadinya tidur di tempat terpisah, akhirnya berkumpul di salah satu rumah. Karena tidak ada kegiatan operasional, kemana-mana selalu berenam. Begitu juga saat mandi di sungai, memasak, makan, tidur, dan nonton tivi bareng-bareng. Selalu berenam, selalu bersama-sama....

Tahun 1994 di sebuah kampung kecil bernama Teluk Balai. Kampung itu berada di pesisir pantai barat Sumatera. Bersama beberapa rekan yang tidak cuti, kami berangkat ke mesjid setempat. Sampai di sana mesjid sudah tiga perempat penuh. Jemaah duduk bershaf-shaf dan melantunkan sholawat. Sampai pukul delapan belum ada tanda-tanda dimulainya sholat Ied. Jemaah terus menerus melantunkan shalawat tanpa putus.
Sekitar pukul setengah sembilan, terdengar suara sepeda motor butut memasuki halaman mesjid. Suaranya yang ‘cempreng’ dan tidak enak membuat sebagian besar jemaah menoleh keluar. Beberapa bahkan bangkit berdiri menemui pengendara motor. Suara cempreng belum berhenti saat pengendara di atasnya berkata lantang: “Lebaran hari ini!”
Terdengar seruan alhamdullilah dari berbagai sudut. Beduk dipukul, adzan dikumandangkan, dan sholat Ied berjamaah pun dimulai. Rupanya si pengendara sepeda motor adalah pengurus mesjid yang berangkat sejak subuh ke mesjid kecamatan (jaraknya sekitar 33 Km dari kampung tersebut) untuk menanyakan kepastian pelaksanaan lebaran....

Tahun 1997 di Sibolga. Sholat Ied dilaksanakan di Lapangan Simare-mare yang berada persis di tengah kota. Jemaah datang menggelar tikar masing-masing di atas rumput yang setengah basah oleh sisa gerimis malam sebelumnya. Tidak ada yang istimewa dalam pelaksanaan sholat. Imam dan Khotib dirangkap oleh seorang pemuka agama yang jelas sekali berasal dari aparat TNI. Jumlah peserta pun tidak begitu banyak, terbagi dalam empat shaf jemaah pria dan dua shaf jemaah wanita di barisan belakangnya. Yang mengejutkan, segera setelah sholat dua rakaat selesai, jemaah wanita merapikan atribut sholatnya dan satu persatu meninggalkan lapangan. Acara khutbah hanya diikuti oleh jemaah pria....

Tahun 1999 di Desa Tabuyung, sebuah desa di pesisir barat Sumatera, sekitar sebelas kilometer sebelah utara Teluk Balai. Di desa itu ritual bermaaf-maafan ternyata sudah dimulai sejak pagi hari. Usai sholat subuh pertama di Bulan Syawal, masyarakat desa saling bermaaf-maafan. Diawali dari mesjid utama, dilanjutkan di sepanjang lorong perkampungan dan rumah-rumah penduduk.
Sholat Ied dilaksanakan selepas fajar menyingsing. Pemandangan unik terlihat dari beberapa jemaah pria yang hadir di halaman mesjid dengan jubah menjuntai sampai mata kaki, lengan panjang, sorban menutup kepala disertai ikat kepala manik-manik. bagaikan pangeran-pangeran dari negeri Arab!
Ternyata hal itu merupakan semacan kebiasaan di sana. Warga kampung yang sudah pernah menunaikan ibadah haji, akan tampil pada sholat Ied dengan busana lengkap bak sedang berada di padang pasir. Dengan demikian akan terlihat dengan jelas siapa-siapa saja yang sudah pernah berangkat ke tanah suci. Tradisi yang sama juga dilakukan saat sholat Idul Adha....

Tahun 2003 di Sawangan. Ini lebaran pertama setelah lama merantau di luar Jawa. Perumahan tempat tinggal kami memiliki musholla, sementara pelaksanaan Ied dilakukan di mesjid besar dekat kelurahan. Tidak ada yang istimewa dengan pelaksanaan Ied di mesjid besar. Setelah sholat Ied usai, kami warga perumahan berkumpul kembali di musholla. Acara utamanya adalah saling bermaaf-maafan antar warga. Dengan demikian, warga tidak perlu lagi saling mengunjungi karena semua sudah bertemu di musholla.
Di perumahan kami sekitar 25% adalah warga non-muslim. Pada saat kami bermaaf-maafan di musholla, warga nasrani juga bergegas ke musholla membentuk semacam barisan panjang di halaman musholla. Jadi begitu warga muslim selesai bersalam-salaman, di luar musholla warga nasrani juga menyambut dengan acara saling bermaaf-maafan.
Dari tahun ke tahun, antrian di luar musholla semakin panjang, bahkan sampai luber ke jalan utama. Ini dimungkinkan karena jumlah muslimin terus bertambah, jumlah nasrani juga tidak berkurang. Tradisi itu masih dilakukan sampai sekarang....

Tahun 2006 di Fakfak - Papua. Karena kesulitan mendapatkan tiket pesawat, saya terpaksa berlebaran di Tanah Papua. Bersama tiga rekan kerja senasib dari Jakarta, kami menginap di Hotel Fakfak yang memiliki pemandangan ke laut lepas. Sebagai kota yang baru berkembang, Fakfak membangun Mesjid Raya di atas perbukitan yang juga menghadap ke laut lepas. Bersama warga muslim lainnya yang kebanyakan berasal dari Jawa dan Sulawesi, kami melaksanakan sholat Ied berlatar belakang lautan biru membentang dan diiringi semilir angin laut.
Seusai sholat Ied, pemilik hotel yang ternyata perantau dari Ujungpandang, mengundang kami untuk makan bersama di ruang tamu. Di situlah pertama kalinya saya merasakan nikmatnya Coto Makassar, Sop Konro, dan Es Pallu Butung....

Tahun 2008 saya memutuskan berlebaran di Pangkalan Bun. Bukan karena tidak kebagian tiket, tapi karena ingin menikmati suasana Idul Fitri di Kalimantan Tengah. Ritual sholat Ied idak banyak berbeda dengan di daerah lain. Yang menarik adalah: pada hari kedua lebaran, pemakaman umum berubah laksana pasar. Rupanya di sana, hari kedua lebaran adalah hari untuk mendoakan arwah keluarga yang sudah mendahului kembali ke alam baka. Yang datang ke pemakaman bukan hanya pelayat beserta keluarganya, tetapi juga pedagang kagetan yang menggelar berbagai macam barang di sepanjang jalan. Mulai dari penjual bunga rampai, bakso, mie ayam, mainan anak-anak, air mineral dan rokok, sampai penjual asesoris berkumpul di sana.
Selepas tengah hari, suasana kota tampak kosong dan sepi. Sebagian besar warga rame-rame berkunjung ke Pantai Kubu, salah satu tempat wisata populer di Pangkalan Bun....

 

Minggu, 10 Juli 2011

Antara Kotawaringin dan Sukabumi


Selama ini kita lebih mengenal Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur sebagai satu-satunya kerajaan di luar Pulau Jawa. Tapi jangan salah, masih ada Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan yang pernah memegang kendali perdagangan di pesisir Pulau Borneo tersebut. Dan lebih jangan salah lagi kalau ternyata pengaruhnya juga sampai ke Kalimantan Tengah.

Di Pangkalan Bun, salah satu situs peninggalan sejarah masa lampau dapat dilihat di Istana Kutawaringin yang berada persis di tengah kota. Sejarah berdirinya tidak terlepas dari peran Pangeran Adipati Antakesuma, putra Raja Banjar Sultan Mustainnubillah (1595-1642) yang melakukan serangkaian perjalanan ke arah barat menyusuri pantai selatan Pulau Kalimantan melewati tempat-tempat yang sekarang dikenal dengan Sampit, Kuala Pembuang, Seruyan, Rantau Pulut, Arut, dan Lamandau. Pada saat menyusuri Sungai Lamandau itulah rombongan Pangeran Adipati Antakesuma berhenti di suatu tempat yang kini dikenal sebagai Kotawaringin Lama.

Catatan sejarah di Astana Alnursari menyebutkan bahwa Kerajaan Kotawaringin Lama dibangun pada tahun 1615. Pangeran Adipati Antakesuma memerintah sebagai Sultan Kotawaringin ke I dengan gelar Ratu Bagawan Kotawaringin dari tahun 1615 – 1630.



Kerajaan Kotawaringin mengalami jaman keemasan pada masa pemerintahan Sultan ke VII Ratu Begawan (1727 – 1761). Kemakmuran kerajaan itu ditandai dengan dipakainya warna kuning sebagai lambang kejayaan sehingga istana Kotawaringin populer dengan sebutan Istana Kuning. Banyak pendatang dari berbagai daerah berdatangan mencari peruntungan di sekitar Kotawaringin. Kapal-kapal saudagar datang dan pergi membawa berbagai bahan dagangan dari Banjar, Bugis, dan Pulau Jawa. Tahun 1811, 1811 pada masa pemerintahan Sultan ke IX Pangeran Imannudin (1811-1841), pusat pemerintahan Kerajaan Kotawaringin Lama dipindah ke Pangkalan Bu’un yang berada di tepian Sungai Arut.

Perihal asal muasal sebutan Pangkalan Bun sendiri, berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, diambil dari nama seorang pengusaha bernama Bu’un yang saat itu menjadi pedagang sukses di tepian Sungai Arut. Saudagar Bu’un sendiri ada yang mengatakan berasal dari Sunda, ada juga yang menyebut dari etnis Tionghoa. Tepian tempat Saudagar Bu’un berdagang itulah yang akhirnya dikenal sebagai Pangkalan Bun, sementara anak sungai kecil yang mengalir ke muara tersebut dinamakan Sungai Bu’un.


Bangunan istana yang ada saat ini adalah hasil pembangunan ulang. Bangunan aslinya terbakar pada Tahun 1986. Saat ini kompleks Istana Kuning terbagi menjadi dua bagian. Yaitu bangunan istana di bagian atas, dan lapangan di bagian bawah. Bagian bawah dikenal masyarakat sebagai Lapangan Tugu yang ditandai dengan kolam dan sebentuk tugu menjulang ke atas. Di depan kompleks istana yang terdiri dari tiga bangunan utama, terdapat prasasti yang menandai dipindahnya pusat pemerintahan dari Kotawaringin Lama ke Pangkalan Bun. Sangat menarik saat mengetahui bahwa dulu Pangkalan Bun dikenal dengan sebutan Sukabumi.


Apa hubungannya dengan Sukabumi yang berada di Jawa Barat?
Tidak ada catatan sejarah yang menjelaskan hal ini. Tapi beberapa cerita memang menyebutkan bahwa pada masa itu banyak orang-orang dari etnis Sunda yang mencari peruntungan di Kutawaringin. Bahkan Bu’un sendiri disebut-sebut sebagai saudagar etnis Tionghoa yang datang dari Sukabumi.


Rabu, 10 November 2010

Pangkalan Bun, Pangkalan Bunderan?

Ada yang pernah berkunjung ke Pangkalan Bun?
Bukan mengada-ada, tapi hampir sebagian besar rekan kerja yang untuk pertama kalinya datang ke Pangkalan Bun selalu menanyakan kenapa begitu banyak terdapat bunderan di dalam kota. Hampir setiap perempatan besar selalu dihiasi dengan bunderan di tengah-tengahnya.
“Pantesan namanya Pangkalan Bun,” komentar seorang di antaranya. “Habis di mana-mana ada bunderan sih....”
Sebetulnya tidak ada hubungannya, karena sebutan Bun berasal dari nama pengusaha yang pernah berjaya di tepian Sungai Arut pada masa abad ke-16. Tapi memang tidak bisa dipungkiri bahwa banyak bunderan di Pangkalan Bun – baik yang sudah populer maupun yang sedang dalam tahap pembangunan.
Nah, ini beberapa di antaranya :



Bunderan Pancasila

Merupakan bunderan yang paling populer di Pangkalan Bun. Terletak di simpang lima Jalan Malijo – Jalan Pasir Panjang – Jalan HM. Rafii – Jalan Iskandar – Jalan Pemuda. Dinamakan Bunderan Pancasila karena di tengahnya menjulang tugu dengan patung Garuda Pancasila di puncaknya.

Pada sore hari, ke lima trotoar yang mengelilinginya ‘hidup’ dengan kehadiran sejumlah kafe tenda. Mulai dari hidangan utama sampai sekedar makanan ringan tersedia di sana. Mulai dari sate sampai ikan bakar, mulai dari jagung rebus sampai gorengan. Ditambah lagi dengan sudut mainan anak-anak dan asesoris. Rasanya tidak ada warga Pangkalan Bun yang tidak mengenalnya.

Bunderan ini juga merupakan pusat pertemuan warga pada hari-hari besar. Pada malam Tahun Baru rasanya semua warga tumplek blek di situ. Pada malam minggu dan malam senin, kafe-kafenya dipenuhi remaja dan yang mengaku masih remaja. Duduk-duduk sekedar menikmati kentang goreng dan pop ice dengan harga murah meriah.



Bunderan Pangkalan Lima

Terletak di pintu keluar kota menuju Sampit. Lebih besar daripada Bunderan Pancasila tapi kurang populer karena letaknya yang jauh di luar kota. Di tengah bunderan ada tugu yang bisa kita naiki sampai setengah puncaknya. Di bagian luar lantai dasar tugu, terdapat lukisan relief yang menggambarkan perjuangan dan sejarah terbentuknya Kabupaten Kotawaringin Barat.


 
Bunderan Kalpataru

Dibangun di persimpangan Jalan Diponegoro – Jalan Prakusumayudha – Jalan Ciwaringin, sebagai simbol keberhasilan Pangkalan Bun meraih piala Adipura selama empat tahun berturut-turut (tahun 2007 – tahun 2010).




Bunderan Pramuka

Awalnya dinamakan Bunderan Beringin karena di tengah-tengahnya tumbuh pohon beringin. Tapi sejak 2008 beringinnya dibongkar – sesuatu yang amat disayangkan – diganti dengan monumen bertuliskan Praja Muda Karana. Terletak di perempatan Jalan Pramuka – Jalan Bhayangkara – Jalan HM. Rafii – Jalan Ahmad Wongso.




Bunderan Monyet

Populer sebagai Bunderan Monyet meski halaman yang ada di tengah bunderan dihiasi patung orangutan. Letaknya di persimpangan Jalan Pasir Panjang – Jalan Kumai – Jalan Padat Karya – Jalan Raya Kubu. Kehadiran patung orangutan itu seolah merupakan salam selamat datang bagi para pelancong yang akan berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting.


Selain bunderan-bunderan tadi, masih banyak bunderan lain yang menghiasi kota Pangkalan Bun – baik yang sudah berdiri maupun yang sedang dalam tahap pengerjaan. Misalnya Bunderan Jam di pertigaan Korindo yang dihiasi jam besar di tengah-tengahnya. Ada juga Bunderan Imanuel di depan Gereja Imanuel, Bunderan Arut dekat jembatan Sungai Arut sedang dalam tahap pengerjaan, dan Bunderan Jagung (yang puncaknya dihiasi patung jagung) di Pangkalan Lada.

Sebetulnya fenomena bunderan ini juga ditemui hampir di semua kota besar di Kalimantan Tengah. Bagi yang bermukim atau sering berkunjung ke Kalteng pasti akan mengakui kenyataan itu. Tapi bagi yang belum pernah, atau yang baru sesekali saja, mungkin akan percaya bahwa dinamakan Pangkalan Bun karena banyak bunderannya....