Tampilkan postingan dengan label sibolga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sibolga. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Oktober 2011

Berlebaran di berbagai Pelosok Nusantara

Bersekolah di SPMAN Bogor merupakan saat pertama kalinya merantau. Sejak itulah saya hidup terpisah dari keluarga. Dan hal itu ternyata terus berlanjut, karena kemudian saya kuliah di Bandung, diteruskan dengan bekerja berpindah-pindah tempat hampir di seluruh pelosok nusantara..
Kadang-kadang – karena satu dan lain sebab – saya tidak bisa pulang untuk berlebaran bersama keluarga. Suatu kenyataan yang sebenarnya menyedihkan tapi tetap harus dijalani. Kebiasaan dan tradisi berlebaran yang berbeda-beda di banyak tempat, merupakan pengalaman menarik seperti bisa dibaca berikut ini.


Tahun 1989 di Pontianak. Ini pertama kalinya saya merantau ke luar Jawa, ke sebuah perusahaan kayu di wilayah Kalimantan Barat. Karena hampir sebagian besar penghuni camp pulang kampung, kami (saya dan dua rekan seangkatan) ikut-ikutan turun ke Pontianak. Tiba di sana tepat saat beduk dan takbir mengalun di mana-mana. Karena tidak punya sanak saudara, kami menginap di Hotel Patria. Keesokan harinya mengikuti Sholat Ied di sebuah lapangan yang sudah lupa namanya. Usai sholat, karena tidak tahu harus ke mana, kami menghabiskan waktu seharian dengan tidur-tiduran dan nonton tivi di kamar hotel. Sore harinya jalan kaki ke kantor telkom untuk mengirim telegram ke rumah orangtua....

Tahun 1992 berlebaran di Base Camp di Sumatera Utara. Waktu itu baru mulai bekerja sekitar empat bulan, jadi tidak mendapat ijin cuti. Suasana sunyi di tengah hutan menjadi terasa sekali, karena dari seratusan karyawan, hanya kami berenam yang tidak bisa cuti.
Bayangkan, enam orang di tengah hutan belantara!
Kami yang tadinya tidur di tempat terpisah, akhirnya berkumpul di salah satu rumah. Karena tidak ada kegiatan operasional, kemana-mana selalu berenam. Begitu juga saat mandi di sungai, memasak, makan, tidur, dan nonton tivi bareng-bareng. Selalu berenam, selalu bersama-sama....

Tahun 1994 di sebuah kampung kecil bernama Teluk Balai. Kampung itu berada di pesisir pantai barat Sumatera. Bersama beberapa rekan yang tidak cuti, kami berangkat ke mesjid setempat. Sampai di sana mesjid sudah tiga perempat penuh. Jemaah duduk bershaf-shaf dan melantunkan sholawat. Sampai pukul delapan belum ada tanda-tanda dimulainya sholat Ied. Jemaah terus menerus melantunkan shalawat tanpa putus.
Sekitar pukul setengah sembilan, terdengar suara sepeda motor butut memasuki halaman mesjid. Suaranya yang ‘cempreng’ dan tidak enak membuat sebagian besar jemaah menoleh keluar. Beberapa bahkan bangkit berdiri menemui pengendara motor. Suara cempreng belum berhenti saat pengendara di atasnya berkata lantang: “Lebaran hari ini!”
Terdengar seruan alhamdullilah dari berbagai sudut. Beduk dipukul, adzan dikumandangkan, dan sholat Ied berjamaah pun dimulai. Rupanya si pengendara sepeda motor adalah pengurus mesjid yang berangkat sejak subuh ke mesjid kecamatan (jaraknya sekitar 33 Km dari kampung tersebut) untuk menanyakan kepastian pelaksanaan lebaran....

Tahun 1997 di Sibolga. Sholat Ied dilaksanakan di Lapangan Simare-mare yang berada persis di tengah kota. Jemaah datang menggelar tikar masing-masing di atas rumput yang setengah basah oleh sisa gerimis malam sebelumnya. Tidak ada yang istimewa dalam pelaksanaan sholat. Imam dan Khotib dirangkap oleh seorang pemuka agama yang jelas sekali berasal dari aparat TNI. Jumlah peserta pun tidak begitu banyak, terbagi dalam empat shaf jemaah pria dan dua shaf jemaah wanita di barisan belakangnya. Yang mengejutkan, segera setelah sholat dua rakaat selesai, jemaah wanita merapikan atribut sholatnya dan satu persatu meninggalkan lapangan. Acara khutbah hanya diikuti oleh jemaah pria....

Tahun 1999 di Desa Tabuyung, sebuah desa di pesisir barat Sumatera, sekitar sebelas kilometer sebelah utara Teluk Balai. Di desa itu ritual bermaaf-maafan ternyata sudah dimulai sejak pagi hari. Usai sholat subuh pertama di Bulan Syawal, masyarakat desa saling bermaaf-maafan. Diawali dari mesjid utama, dilanjutkan di sepanjang lorong perkampungan dan rumah-rumah penduduk.
Sholat Ied dilaksanakan selepas fajar menyingsing. Pemandangan unik terlihat dari beberapa jemaah pria yang hadir di halaman mesjid dengan jubah menjuntai sampai mata kaki, lengan panjang, sorban menutup kepala disertai ikat kepala manik-manik. bagaikan pangeran-pangeran dari negeri Arab!
Ternyata hal itu merupakan semacan kebiasaan di sana. Warga kampung yang sudah pernah menunaikan ibadah haji, akan tampil pada sholat Ied dengan busana lengkap bak sedang berada di padang pasir. Dengan demikian akan terlihat dengan jelas siapa-siapa saja yang sudah pernah berangkat ke tanah suci. Tradisi yang sama juga dilakukan saat sholat Idul Adha....

Tahun 2003 di Sawangan. Ini lebaran pertama setelah lama merantau di luar Jawa. Perumahan tempat tinggal kami memiliki musholla, sementara pelaksanaan Ied dilakukan di mesjid besar dekat kelurahan. Tidak ada yang istimewa dengan pelaksanaan Ied di mesjid besar. Setelah sholat Ied usai, kami warga perumahan berkumpul kembali di musholla. Acara utamanya adalah saling bermaaf-maafan antar warga. Dengan demikian, warga tidak perlu lagi saling mengunjungi karena semua sudah bertemu di musholla.
Di perumahan kami sekitar 25% adalah warga non-muslim. Pada saat kami bermaaf-maafan di musholla, warga nasrani juga bergegas ke musholla membentuk semacam barisan panjang di halaman musholla. Jadi begitu warga muslim selesai bersalam-salaman, di luar musholla warga nasrani juga menyambut dengan acara saling bermaaf-maafan.
Dari tahun ke tahun, antrian di luar musholla semakin panjang, bahkan sampai luber ke jalan utama. Ini dimungkinkan karena jumlah muslimin terus bertambah, jumlah nasrani juga tidak berkurang. Tradisi itu masih dilakukan sampai sekarang....

Tahun 2006 di Fakfak - Papua. Karena kesulitan mendapatkan tiket pesawat, saya terpaksa berlebaran di Tanah Papua. Bersama tiga rekan kerja senasib dari Jakarta, kami menginap di Hotel Fakfak yang memiliki pemandangan ke laut lepas. Sebagai kota yang baru berkembang, Fakfak membangun Mesjid Raya di atas perbukitan yang juga menghadap ke laut lepas. Bersama warga muslim lainnya yang kebanyakan berasal dari Jawa dan Sulawesi, kami melaksanakan sholat Ied berlatar belakang lautan biru membentang dan diiringi semilir angin laut.
Seusai sholat Ied, pemilik hotel yang ternyata perantau dari Ujungpandang, mengundang kami untuk makan bersama di ruang tamu. Di situlah pertama kalinya saya merasakan nikmatnya Coto Makassar, Sop Konro, dan Es Pallu Butung....

Tahun 2008 saya memutuskan berlebaran di Pangkalan Bun. Bukan karena tidak kebagian tiket, tapi karena ingin menikmati suasana Idul Fitri di Kalimantan Tengah. Ritual sholat Ied idak banyak berbeda dengan di daerah lain. Yang menarik adalah: pada hari kedua lebaran, pemakaman umum berubah laksana pasar. Rupanya di sana, hari kedua lebaran adalah hari untuk mendoakan arwah keluarga yang sudah mendahului kembali ke alam baka. Yang datang ke pemakaman bukan hanya pelayat beserta keluarganya, tetapi juga pedagang kagetan yang menggelar berbagai macam barang di sepanjang jalan. Mulai dari penjual bunga rampai, bakso, mie ayam, mainan anak-anak, air mineral dan rokok, sampai penjual asesoris berkumpul di sana.
Selepas tengah hari, suasana kota tampak kosong dan sepi. Sebagian besar warga rame-rame berkunjung ke Pantai Kubu, salah satu tempat wisata populer di Pangkalan Bun....

 

Rabu, 28 April 2010

Kereta atau Motor?


    “Keponakanku beruntung sekali kawin sama orang Sumatera. Mertuanya kaya raya. Bayangkan saja, katanya di kampung sana kebun sawitnya duabelas hektar, kebun rambungnya sepuluh hektar, motornya cuma dua tapi keretanya enam!…”

    Begitulah yang saya dengar pada suatu siang yang panas dalam metromini yang terjebak kemacetan di kawasan Senen, Jakarta. Sebagai orang yang pernah lama bekerja di Sumatera Utara, saya tahu yang dimaksud Sumatera oleh ibu tadi pastilah dari Sumatera Utara. Saya juga tidak heran kalau ia juga menyebut mertuanya punya enam buah kereta.
    Antara tahun 1990 sampai 2002 saya bekerja di Sibolga – sebuah kota kecil dengan panorama pantai yang indah – sekitar 350 Km di selatan Kota Medan. Laut membentang di depan mata, sementara perbukitan memanjang di belakang punggung.
    Angkutan kota tak seberapa ramai. Untuk angkutan sehari-hari tersedia becak yang jumlahnya ratusan. Berbeda dengan becak jawa, pengemudi becak Sibolga berada di samping. Itu untuk di dalam kota. Kalau mau keluar kota yang jalannya agak menanjak tersedia becak motor. Semacam becak juga tetapi tenaga penggeraknya sepeda motor.
    Karena jalan-jalan dengan becak kurang leluasa, saya terpikir untuk meminjam sepeda motor. Kepada teman sekantor yang asli orang Sibolga saya mengutarakan niat itu.
    “Boleh, Pak. Besok sekalian saya temani. Kita pakai kereta saja.”
    Sebetulnya saya lebih suka pakai sepeda motor saja karena lebih leluasa kalau mau berhenti atau masuk ke jalan-jalan kecil. Lagipula setahu saya tidak ada stasiun kereta di Sibolga. Lintasannya saja tidak pernah kelihatan. Tapi karena segan mendebat – mungkin rekan itu keberatan sepeda motornya dipinjam – saya diam saja.
     Ketika keesokan harinya rekan itu datang dengan sepeda motor, saya memberanikan diri berkata, “Kita naik sepeda motor saja deh. Tidak usah naik kereta api. Lebih santai, kan?”
     Sesaat kemudian saya tahu bahwa yang dimaksudkan dengan kereta kemarin ya sepeda motor itu. “Kalau di Sumatera yang namanya kereta ya sepeda motor, Pak.. Kecuali kalau disebutkan lengkap kereta api, baru maksudnya kereta yang pakai rel itu!”
    “Berarti istilah sepeda motor tidak ada ya?”
    “Tidak ada. Yang ada ya kereta, atau kereta api, atau kereta angin. Kalau kereta angin itu yang digenjot pake kaki itu, Pak. Kalau di tempat Bapak mungkin namanya sepeda ya?”
    O… sepeda onthel, kata saya dalam hati sambil tertawa.
    Setelah tahu bedanya antara kereta api, kereta angin, dan kereta saja, dua hari kemudian saya kembali dikejutkan dengan istilah yang lain lagi. Hari itu saya akan mengunjungi pembibitan yang letaknya sekitar 13 Km dari kantor proyek. Secara kebetulan ada sebelas karyawan yang juga akan ke sana. Karena saya belum tahu tempatnya, maka saya minta supaya nanti berangkat bersama-sama.
    Sampai tiga jam kemudian masih juga belum ada pemberitahuan. Karena sudah pukul sebelas siang – sementara saya berencana akan pulang pergi – saya kembali ke depan. Ternyata ke sebelas karyawan tadi masih duduk-duduk santai sambil ngobrol dan merokok.
    “Kok belum berangkat?” tanya saya.
    “Belum, Pak, motornya belum datang.”
    “Jadi kita mau naik motor? Apa motor bisa masuk ke lokasi yang banyak tanjakannya? Lagipula kita kan duabelas orang, berapa motor yang nanti kita perlukan?”
    Sebagian dari para karyawan itu tertawa. Setengah jam kemudian yang datang menjemput adalah dumptruk proyek yang bisa memuat sampai seratus orang di bak belakang. Saya yang kebagian duduk di kabin depan, di samping supir, kemudian baru ngeh bahwa yang dimaksudkan dengan motor tak lain adalah mobil.
    Setelah bertahun-tahun kemudian saya semakin paham bahwa di Sumatera Utara semua kendaraan roda empat disebut motor. Baik itu kendaraan proyek, mobil pribadi, maupun motor sewa – yaitu angkutan umum untuk menarik penumpang.


Pernah dimuat di Intisari no.492/Juli 2004