Tampilkan postingan dengan label sumatera utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sumatera utara. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Mei 2010

Becak Sumatera Lebih Familiar


Apa bedanya becak Tegal dengan becak Solo?
Dilihat dari fisiknya, becak Tegal tampak ‘kontet’. Ruang penumpang seperti melesak ke bawah. Dalam posisi duduk santai, lutut dan dada penumpang nyaris sejajar. Pengayuh becak di bagian belakang duduk dengan posisi lebih tinggi sehingga dengan mudah melihat jalan di depannya.
Sementara becak Solo terkesan gemuk dan gembrot. Kesan itu barangkali karena sisi kiri dan kanan yang menggelembung. Bangku penumpang agak tinggi sehingga kita laksana duduk di kursi kantor. Kalau penumpangnya wanita dan memakai kain, becak harus ditunggingkan ke depan agar penumpang dapat naik dengan nyaman. Kedudukan pengayuh dan penumpang yang nyaris sejajar menyebabkan pengayuh harus berdiri atau mendongakkan kepala kalau melewati jalan berlubang agar leluasa melihat ke depan.
Pertanyaan kedua: apa bedanya becak di Jawa dengan becak di Sumatera Utara?

Lebih Familiar
Awal tahun 1990 adalah saat pertama kali saya berkenalan dengan becak Sumatera. Begitu turun dari bis di Terminal Sibolga – pagi-pagi sekali – sekelompok tukang becak sudah berkerumun menawarkan jasanya. Becaknya tidak kontet seperti becak Tegal, tidak juga gembrot seperti becak Solo. Ukuran becaknya biasa-biasa saja. Cuma posisi pengayuh becak berada di samping kanan tempat penumpang.
Jadi sambil berbecak ria, kita bisa ngobrol dengan pengayuhnya yang mungkin sedang ngos-ngosan. Apalagi kalau kebetulan tukang becaknya bisa ngomong Jawa, wah, makin kerasan kita dibuatnya. Tapi walaupun ada yang bisa bicara Jawa, mereka jarang yang asli dari Pulau Jawa. Kebanyakan ya pujakesuma alias putra Jawa kelahiran Sumatera, yaitu lahir di Sumatera dari orangtua yang asli Jawa.
Kalau penumpang dan pengayuhnya sama-sama orang Sumatera, maka martarombo-lah mereka, ngobrol soal silsilah marganya masing-masing. Tetapi sebagian besar pengayuh becak di Sibolga didominasi oleh orang Nias, salah satu etnis di Sumatera Utara yang dikenal sebagai pekerja keras. Wajah mereka mirip orang Cina, agak sipit dan berkulit putih. Sayangnya bahasa mereka terdengar ruwet dan sulit dipahami.
Becak Sumatera merupakan gabungan antara sepeda dengan gerobak. Di antara keduanya dihubungkan dengan dua pipa besi. Kalau becak di Jawa dikelompokkan dalam kendaran roda tiga, maka becak di Sumatera mestinya masuk kelompok roda empat. Sebab rodanya memang empat, dua roda sepedanya dan dua lagi roda gerobaknya.
Sayangnya becak Sumatera yang lebih familiar dan lebih friendly ini bakal tidak punya tempat di Jakarta. Bentuknya yang lebih lebar menyita lebih banyak tempat. Apalagi kalau mengayuh becaknya sambil martarombo, bisa-bisa diklakson mobil lain di sepanjang jalan.

Dari Harley Sampai Sekuter
Becak khas Sumatera Utara menguasai hampir seluruh kota-kota besar di provinsi tersebut. Kita bisa melihatnya berseliweran di kota-kota seperti Sibolga, Pematang Siantar,  Padang sidempuan, Medan, bahkan sampai ke Banda Aceh. Mereka biasanya hilir mudik di tengah-tengah kota yang relatif datar. Untuk ke luar kota tersedia becak mesin –   becak juga tapi digerakkan oleh tenaga sepeda motor.
Dengan becak mesin perjalanan memang menjadi lebih cepat. Tapi ongkosnya juga menjadi lebih mahal, sebab bahan bakarnya memakai bensin – bukan sekedar nasi bungkus saja. Sayangnya becak mesin menjadi tidak familiar lagi karena tidak mungkin berbincang-bincang dengan pengemudinya saat becak melaju kencang.
Untuk urusan becak mesin ini, kota Pematang Siantar terkenal dengan motor-motor besarnya. Jadi kalau kita naik becak di sana, kita seperti dikawal oleh Harley Davidson. Becak mesin di Siantar memang digerakkan oleh sepeda motor ber-CC besar model Norton atau BSA. Motor-motor keluaran jaman Jepang itu ternyata masih eksis meskipun banyak sparepartnya yang terpaksa dimodifikasi sendiri.
Pengemudi becak mesin di Sibolga lebih beruntung karena sepeda motornya bukan motor besar  keluaran jaman rekiplik. Kebanyakan didominasi oleh  sepeda motor Honda GL 100 atau sebangsanya. Demikian juga becak mesin di Banda Aceh, tenaga penggeraknya menggunakan sepeda motor keluaran lama – tapi tidak sekuno becak Siantar. Yang unik adalah becak mesin yang lalu-lalang di kota Padangsidempuan. Motor penggeraknya menggunakan sekuter!
Iutlah sebabnya kenapa anak-anak muda di Padangsidempuan jarang yang mau berjalan-jalan mengendarai sekuter. Soalnya kalau ketemu teman-teman atau gadis cantik suka diledek, “Eh, becak Bapakmu kamu copot ya?”

Sumber foto: transport.atvisit.com/becak-medan

 

Rabu, 28 April 2010

Kereta atau Motor?


    “Keponakanku beruntung sekali kawin sama orang Sumatera. Mertuanya kaya raya. Bayangkan saja, katanya di kampung sana kebun sawitnya duabelas hektar, kebun rambungnya sepuluh hektar, motornya cuma dua tapi keretanya enam!…”

    Begitulah yang saya dengar pada suatu siang yang panas dalam metromini yang terjebak kemacetan di kawasan Senen, Jakarta. Sebagai orang yang pernah lama bekerja di Sumatera Utara, saya tahu yang dimaksud Sumatera oleh ibu tadi pastilah dari Sumatera Utara. Saya juga tidak heran kalau ia juga menyebut mertuanya punya enam buah kereta.
    Antara tahun 1990 sampai 2002 saya bekerja di Sibolga – sebuah kota kecil dengan panorama pantai yang indah – sekitar 350 Km di selatan Kota Medan. Laut membentang di depan mata, sementara perbukitan memanjang di belakang punggung.
    Angkutan kota tak seberapa ramai. Untuk angkutan sehari-hari tersedia becak yang jumlahnya ratusan. Berbeda dengan becak jawa, pengemudi becak Sibolga berada di samping. Itu untuk di dalam kota. Kalau mau keluar kota yang jalannya agak menanjak tersedia becak motor. Semacam becak juga tetapi tenaga penggeraknya sepeda motor.
    Karena jalan-jalan dengan becak kurang leluasa, saya terpikir untuk meminjam sepeda motor. Kepada teman sekantor yang asli orang Sibolga saya mengutarakan niat itu.
    “Boleh, Pak. Besok sekalian saya temani. Kita pakai kereta saja.”
    Sebetulnya saya lebih suka pakai sepeda motor saja karena lebih leluasa kalau mau berhenti atau masuk ke jalan-jalan kecil. Lagipula setahu saya tidak ada stasiun kereta di Sibolga. Lintasannya saja tidak pernah kelihatan. Tapi karena segan mendebat – mungkin rekan itu keberatan sepeda motornya dipinjam – saya diam saja.
     Ketika keesokan harinya rekan itu datang dengan sepeda motor, saya memberanikan diri berkata, “Kita naik sepeda motor saja deh. Tidak usah naik kereta api. Lebih santai, kan?”
     Sesaat kemudian saya tahu bahwa yang dimaksudkan dengan kereta kemarin ya sepeda motor itu. “Kalau di Sumatera yang namanya kereta ya sepeda motor, Pak.. Kecuali kalau disebutkan lengkap kereta api, baru maksudnya kereta yang pakai rel itu!”
    “Berarti istilah sepeda motor tidak ada ya?”
    “Tidak ada. Yang ada ya kereta, atau kereta api, atau kereta angin. Kalau kereta angin itu yang digenjot pake kaki itu, Pak. Kalau di tempat Bapak mungkin namanya sepeda ya?”
    O… sepeda onthel, kata saya dalam hati sambil tertawa.
    Setelah tahu bedanya antara kereta api, kereta angin, dan kereta saja, dua hari kemudian saya kembali dikejutkan dengan istilah yang lain lagi. Hari itu saya akan mengunjungi pembibitan yang letaknya sekitar 13 Km dari kantor proyek. Secara kebetulan ada sebelas karyawan yang juga akan ke sana. Karena saya belum tahu tempatnya, maka saya minta supaya nanti berangkat bersama-sama.
    Sampai tiga jam kemudian masih juga belum ada pemberitahuan. Karena sudah pukul sebelas siang – sementara saya berencana akan pulang pergi – saya kembali ke depan. Ternyata ke sebelas karyawan tadi masih duduk-duduk santai sambil ngobrol dan merokok.
    “Kok belum berangkat?” tanya saya.
    “Belum, Pak, motornya belum datang.”
    “Jadi kita mau naik motor? Apa motor bisa masuk ke lokasi yang banyak tanjakannya? Lagipula kita kan duabelas orang, berapa motor yang nanti kita perlukan?”
    Sebagian dari para karyawan itu tertawa. Setengah jam kemudian yang datang menjemput adalah dumptruk proyek yang bisa memuat sampai seratus orang di bak belakang. Saya yang kebagian duduk di kabin depan, di samping supir, kemudian baru ngeh bahwa yang dimaksudkan dengan motor tak lain adalah mobil.
    Setelah bertahun-tahun kemudian saya semakin paham bahwa di Sumatera Utara semua kendaraan roda empat disebut motor. Baik itu kendaraan proyek, mobil pribadi, maupun motor sewa – yaitu angkutan umum untuk menarik penumpang.


Pernah dimuat di Intisari no.492/Juli 2004