Selasa, 15 Juni 2010

Dari Lintah sampai Kutu Monyet

Camp tarik merupakan perumahan pekerja yang berada di ujung jalan angkutan. Tapi bukan berarti yang paling ujung. Jauh di dalam hutan, ada kelompok pekerja yang disebut regu survey. Mereka tidak dibuatkan rumah – baik permanen maupun semi permanen – tapi diberi terpal untuk tenda. Tempat kerjanya di tengah hutan sehingga mirip orang kemping.
Satu regu survey terdiri dari sepuluh sampai duabelas orang. Tugasnya membuat batas areal penebangan dan mendata potensi kayu yang ada. Sekali masuk hutan mereka langsung membawa perlengkapan dan bekal makanan selama sebulan. Diantar sampai ujung jalan, selebihnya jalan kaki.
Kalau lokasi surveynya cuma beberapa kilometer, jalan kakinya cuma setengah hari. Tapi saya pernah mengalami lokasi survey sampai duapuluh kilometer. Wah, untuk melangsir perbekalan saja butuh lima hari. Untungnya anggota regu survey diambil dari masyarakat setempat yang sudah tidak asing dengan suasana hutan. Mereka bahkan sanggup mengangkut beban lebih dari 30 kg dengan kecepatan normal, tanpa alas kaki lagi!
Di lokasi survey, yang pertama kali dilakukan adalah mendirikan tenda. Beruntung kalau ketemu sungai besar, karena nantinya bisa memancing ikan untuk variasi menu makanan sehari-hari. Soalnya bekal yang disediakan perusahaan biasanya cuma indomie, sarden, dan ikan asin.
Kalau sungainya kecil sebetulnya tidak masalah karena airnya malah lebih bersih, mirip air mineral kemasan. Cuma untuk mencari ikan harus pergi agak jauh. Tapi itu juga tidak masalah karena kita bisa memasang perangkap di sekeliling tenda. Lumayan kalau dapat kancil, burung kuau, atau bahkan kijang!

Yang jadi masalah justru serangga pengganggu yang seperti tidak ada habisnya. Dalam perjalanan ke tengah belantara, lintah-lintah kecil yang disebut pacet sudah menunggu di ujung-ujung dedaunan. Waktu menempel di kaki seringkali tidak terasa. Begitu kembali ke tenda dan mengganti celana panjang, baru ketahuan darah mengucur di betis atau paha.

 

Nyamuk mungkin sudah tidak asing lagi karena di kota juga banyak. Tapi agas – serangga lembut sebesar butiran pasir – sangat mengganggu karena menimbulkan gatal di kulit. Ada yang menyarankan untuk merokok untuk menghindari serangan agas. Tapi kalau agasnya datang tanpa henti apa iya kita juga harus merokok terus-terusan?
“Nggak kena agas tapi nanti malah kena TBC,” komentar saya.

Ada lagi yang namanya pitak. Ini bukan luka kecil di kepala melainkan nama sejenis lalat besar yang memiliki jarum di ujung mulutnya. Kalau sudah menggigit, sakitnya minta ampun. Menepuknya juga sulit karena mata facetnya bisa melihat ke segala arah.

Paling menjengkelkan dari semua tadi adalah kutu monyet. Serangga sejenis kutu ayam (gurem – kata orang Jawa) ini suka bersembunyi di antara ranting dan dedaunan kering. Begitu terinjak, puluhan dari mereka serentak menyerang kaki. Gatalnya minta ampun. Kalau digaruk malah tambah perih.
Kalau sudah kena serangan kutu monyet, kaki harus segera dibasuh dengan minyak tanah. (Tapi sialnya tidak selalu tersedia minyak tanah – untuk bahan bakar perusahaan menggunakan solar). Pakaian yang terkena pun sebaiknya dibakar saja, atau direndam air panas – kalau masih bagus. Kemudian kutunya dicari satu-satu – sebab biasanya mereka masih menempel di pori-pori – lalu diangkat dengan benda tajam semacam silet atau pisau cutter.
Dua hari kemudian pada bekas gigitan kutu monyet akan muncul bintik-bintik berisi cairan kuning seperti nanah. Setelah pecah biasanya timbul bercak-bercak hitam. Tapi tak usah kuatir, bercak hitam itu akan hilang seiring dengan waktu.
Seorang teman bercerita bahwa diserang kutu monyet itu bukan sakitnya yang jadi masalah, tapi malunya itu.
“Masak kutu-kutu itu tidak bisa membedakan kita dengan monyet!...”
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar