Selasa, 18 Mei 2010

Berburu Rusa di Papua



Langit belum lagi gelap ketika sebuah longboat mendarat di pesisir pantai utara Distrik Kokas. Beberapa orang bertubuh hitam tegap berloncatan turun, diikuti oleh dua ekor anjing yang nampaknya sudah terbiasa berburu. Seorang di antara laki-laki hitam tegap tadi tampak menyandang senapan laras panjang.
Ini adalah pemandangan yang biasa di pesisir Papua – khususnya di perkampungan terpencil di tepi pantai. Distrik Kokas – kalau di Jawa identik dengan kecamatan – termasuk salah satu distrik di Kabupaten Fakfak yang dikelilingi oleh lautan dan dibatasi hutan alam. Orang-orang di longboat tadi bukan aparat keamanan, bukan tim pemberantasan illegal logging, mereka cuma sekelompok masyarakat yang bermaksud berburu rusa.
Kenapa rusa?
Karena jenis binatang itulah yang banyak ditemukan di hutan-hutan setempat. Dengan bermodalkan senapan laras panjang jenis Mauser – yang biasanya dipinjam dari petugas Koramil – plus beberapa butir peluru, sudah cukup untuk mendapatkan dua atau tiga ekor rusa.
“Apalagi kalau kita puanjing su biasa berburu, bisa dapat lebih banyak lagi,” kata Dahlin Iha sambil membubuhkan tip-eks pada ujung laras.
Anjing berguna untuk menggiring rusa setelah kena tembak. Lalu tip-eks tadi? Untuk menandai ujung laras supaya bidikan bisa tepat. “Kalau sumalam biasanya gelap jadi susah kalau tidak pakai tip-eks,” kata Dahlin lagi.


Sumber Daging
Satu-satunya pemangsa rusa di paruh burung Papua adalah Rusa (Cervus timorensis) merupakan salah satu mamalia yang banyak berkeliaran di hutan-hutan Papua. Selain rusa, mamalia yang banyak ditemukan adalah Babi Hutan (Sus Vitatus) dan kelompok marsupial atau hewan berkantung.
Seorang peneliti bernama Ronald G. Petocz, dalam bukunya Konsevasi Alam dan Pembangunan di Irian Jaya (1987) menyebutkan bahwa rusa bukanlah satwa asli Papua, melainkan satwa yang dimasukkan dari luar. Kemungkinan besar masuk dari Kepulauan Maluku karena ada jenis rusa yang dinamakan Cervus timorensis moluccensis.
Yang jelas, bisa dikatakan rusa adalah satu-satunya mamalia besar di Papua. Mamalia yang lebih besar, yang bersifat predator (pemangsa) bagi rusa bisa dikatakan tidak ada!
Ini yang membedakan rusa Papua dibandingkan rusa di kawasan lain. Di Sumatera atau Kalimantan, rusa menjadi binatang buruan bagi harimau (Panthera tigris), macan tutul (Panthera pardus), atau ular sanca (Phyton reticulatus). Itulah sebabnya mengapa rusa begitu banyak ditemukan di hutan-hutan Irian Jaya Barat.
manusia. Bagi masyarakat kampung, rusa merupakan salah satu sumber daging bagi kebutuhan sehari-hari. Apabila mereka membutuhkan daging dalam jumlah besar, misalnya untuk hajatan perkawinan, daging rusa menjadi pilihan yang mungkin.
Harganya termasuk murah. Pada saat di Fakfak harga daging sapi mencapai 45 ribu per kilo, daging rusa dijual hanya seharga 17 ribu per kilogramnya.


Tanduknya pun Laku
Perburuan biasanya dilakukan menjelang tengah malam. Satu tim umumnya terdiri dari satu penembak, minimal dua pembantu, dan seekor anjing. Senter merupakan salah satu alat bantu yang penting.
Kehadiran rusa diketahui dari tingkah anjing yang berubah. Posisi berdiri rusa bisa diketahui dari cahaya matanya yang menyolok di tengah malam. Pada saat disorot dengan senter, seekor rusa biasanya malah berdiri terpaku sehingga penembak makin mudah membidikkan senapannya.
Suara senapan yang membelah malam merupakan tanda sudah terjadinya ‘pembantaian’. Kalau rusanya tidak langsung rubuh, anjing berfungsi untuk mengejar atau menggiring ke arah pantai.
Pagi hari perburuan selesai. Rusa hasil buruan, kalau kondisinya tidak memungkinan dibawa hidup-hidup, biasanya langsung disembelih di tempat. Kalau lokasi perburuan jauh dari pantai, daging biasanya dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Isi perut ditinggal begitu saja di tengah hutan.
Kadang-kadang, selain mendapat rusa dewasa, pemburu juga acapkali mendapatkan anak rusa yang bisa sekalian ditangkap. Anak rusa tadi bisa dipelihara sampai menjadi rusa dewasa, seperti layaknya memelihara kambing.
Sesampainya di kecamatan, daging rusa dijual eceran kepada penduduk yang berminat. Atau bisa juga dijual borongan. Untuk rusa ukuran sedang – dengan berat daging sekitar 20 atau 25 kilo – dihargai tiga ratus ribu Rupiah.
Kalau rusanya jantan dewasa, selain daging masih ada hasil ikutannya yang berharga, yaitu kepala dan tanduk. Kepala dan tanduk rusa bercabang minimal enam, biasanya dioffset menjadi hiasan dinding. Untuk hasil pengoffsetan yang sempurna, harganya bisa mencapai lima ratus ribu Rupiah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar