Senin, 10 Mei 2010

Taksi atau Angkot?

Istilah taxi untuk menyebut angkutan kota ternyata banyak digunakan di beberapa wilayah di luar Pulau Jawa. Misalnya di Bengkulu, di Pekanbaru, di Fakfak, dan juga di Pangkalan Bun. Mungkin juga ada di beberapa provinsi lain di Indonesia tercinta ini.
Namanya saja taxi, tapi penampilan dan sistim trayeknya lebih mirip angkot. Kadang – secara kebetulan – warnanya pun kuning seperti umumnya warna taxi pada tahun 80-an. Meski begitu, penampilan taxi angkot di beberapa tempat memiliki kekhasannya sendiri-sendiri.
Persamaan antara taxi angkot dan taxi betulan ya di servis-nya. Kita bisa minta diantar sampai di depan rumah kalau kita meminta – misalnya pas lagi banyak bawa barang belanjaan. Tinggal ngomong sama sang supir dan biasanya penumpang lain maklum adanya.
Saya senang-senang saja kalau taxi angkotnya nyeleweng dulu keluar trayek. Apalagi kalau sedang tidak terburu-buru. Toh tidak bakalan terlalu jauh. Soalnya dengan begitu malah jadi tahu pelosok-pelosok jalan yang lain.
“Itulah sebabnya dinamakan taxi,” komentar saya dalam hati.“Penumpangnya bisa minta diantar langsung ke depan rumah..”
Di Pekanbaru, taxi-taxi angkot identik dengan musik. Hampir semua dilengkapi dengan stereo set yang memekakkan telinga. Pilihan musiknya pun beragam, tergantung selera supirnya. Ada yang pop, ada yang dangdut, ada pula yang rock. Semakin mendekati terminal di Jalan Nangka – yang di sana disebut loket, mungkin karena banyaknya loket-loket bis antar kota yang berjajar di sepanjang terminal – suara hingar-bingar semakin menjadi.
Hebatnya lagi, calon penumpang bisa memilih sesuai selera musiknya masing-masing. Meski taxi-nya sudah berjejer di depan mata, tapi kalau selera musiknya berbeda, mereka – biasanya anak-anak sekolah – lebih rela menunggu musik pujaannya.
“Nggak ah,” terdengar komentar salah seorang di antaranya. “Nanti aja. Musiknya aku enggak suka....Tunggu yang pop aja...”
Padahal, di dalam angkot berisiknya bukan main. Kalau pas kebagian tempat di depan di samping supir, kadang saya mengecilkan sendiri volumenya. Soalnya pernah pada satu waktu, pas lagi dalam angkot yang menyetel dangdut house music, eh istri menelpon. Begitu mendengar suara bising, istri spontan bertanya,
“Papa lagi di mana? Lagi di diskotik ya?”
“.....  ....”

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar