Kamis, 13 Mei 2010

Menanam Padi Harus Bersamaan

Sewaktu bertugas di pedalaman Kabupaten Mandailing Natal, saya mendapat tugas dari perusahaan untuk menaman padi unggul jenis IR 64. Tujuannya agar masyarakat sekitar dapat melihat keunggulan jenis padi tersebut dibandingkan padi lokal yang selama ini mereka tanam.
Ketika hal tersebut saya sampaikan kepada kepala desa, beliau menyarankan untuk menunggu musim tanam berikutnya, sebab saat itu sudah memasuki masa pemeliharaan padi. Rupanya tradisi di desa tersebut, kegiatan menanam padi dilakukan serentak. Kapan mulai menyemai dan kapan mulai menanam diumumkan lewat mesjid seusai sholat Jum’at.
Merasa sebagai orang berpendidikan, tentu saja saya keberatan. Kenapa harus ikut-ikutan yang lain? Biarlah padi di sawah-sawah lain sudah mulai berbulir, kalau kita baru mulai menanam sekarang, apa salahnya? Toh lahan milik kita sendiri, dan benih juga kita beli sendiri.
Akhirnya dengan penuh keyakinan benih padi unggul itu kami tanam. Ketika padi-padi milik masyarakat sudah dipanen, padi milik perusahaan baru memasuki masak bulir. Pernyataan dari kepala desa kemudian terbukti. Karena sawah-sawah lain sudah kosong, maka seluruh burung-burung sawah menyerbu sawah kami. Mereka berpesta pora di sawah kami!
Baru kemudian saya menyadari bahwa salah satu alasan kenapa menanam padi dilakukan serentak adalah untuk mengurangi resiko serangan burung. Dengan banyaknya sawah yang masak bulir secara bersamaan, serangan hama burung jadi terbagi-bagi.
Kebersamaan memang mempunyai makna yang lebih baik. Dan pengalaman dengan padi itu merupakan salah satu buktinya.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar