Selasa, 18 Mei 2010

Nonton Kapal sebagai Hiburan


Kalau saja Anda saat ini berada di Fakfak – sebuah kota kecil di paruh burung Papua – dan ingin berjalan-jalan, kemudian bertanya kepada warga setempat, kemungkinan besar Anda akan disarankan pergi ke kota.
Tapi jangan membayangkan kota tersebut seperti kawasan Kota di Jakarta yang sarat dengan mall dan tempat hiburan. Kota di Fakfak tak lebih hanya sebutan untuk sepenggal jalan sepanjang sekitar dua kilometer bernama Jalan Itzak Tellusa. Jalan tersebut menghubungkan Pelabuhan Fakfak dengan satu-satunya tempat keramaian di kota tersebut.
Di Jalan Itzak Tellusa itulah kita bisa menemukan jejeran toko yang menjual kebutuhan sehari-hari. Mulai dari perlengkapan rumah tangga, pakaian, tempat makan, atau wartel.
Meskipun banyak toko, belum tentu apa yang kita cari – yang kalau di Jakarta sudah pasti ada – dapat dengan segera kita temukan di sana. Majalah dan koran yang dijual biasanya terbitan dua minggu sebelumnya. Snack dan produk kecantikan yang iklannya sering muncul di tivi, belum tentu tersedia.
Kawasan pertokoan di kota biasanya mulai buka pukul sembilan pagi. Jangan berpikir soal kedai kopi tempat duduk-duduk menikmati sarapan sambil melihat lalu lalang orang atau kendaraan, karena memang tidak ada. Juga jangan kaget kalau pukul dua siang semua toko menutup pintunya. Mereka baru akan buka kembali pukul lima sore. Kemudian buka lagi sampai sekitar pukul sembilan atau sepuluh malam.
Begitu pertokoan tutup, jalanan yang semula ramai mendadak kosong. Kalau keramaian masih ada sampai lewat pukul sebelas, aha, berarti ada Kapal Pelni yang akan sandar di Pelabuhan Fakfak.
Kedatangan Kapal Pelni – yang oleh warga biasa disebut Kapal Putih – merupakan satu hiburan tersendiri. Dengan jadwal kedatangan yang rutin, mereka hapal kapal apa yang akan sandar minggu ini. Apakah KM Bukit Siguntang, KM Dorolonda, atau KM Ciremai. Mereka juga tahu persis apakah kapalnya datang dari Kaimana atau justru akan berangkat ke Sorong.
Selain pesawat udara, kapal laut merupakan alternatif warga Fakfak dalam berhubungan dengan tempat lain. Dari Pelabuhan Fakfak secara reguler diberangkatkan kapal laut melayani trayek Fakfak-Sorong-Biak-Serui-Jayapura dan trayek Fakfak-Kaimana-Timika-Merauke. Untuk ke luar Papua ada trayek Fakfak-Banda-Ambon-Makasar-Surabaya-Jakarta. Ada juga yang melintasi jalur selatan melalui Kupang atau Maumere.
Warga berdatangan ke pelabuhan bukan hanya untuk menjemput famili atau keluarga yang mungkin berkunjung. Mereka menyambut kedatangan kapal putih seperti menyambut pasar malam. Biasanya kapal merapat antara dua sampai tiga jam. Selama masa sandar itu, warga bisa naik ke atas kapal untuk berbelanja pakaian, kebutuhan rumah tangga, alat elektronik, atau sekedar menikmati ayam goreng khas Amerika.
Harga barang yang dijual di kapal umumnya lebih murah daripada yang dijual di daratan. Apalagi kalau kapal akan kembali ke Makassar atau Surabaya. Kabarnya pedagang di kapal memilih melepas barang dengan keuntungan tipis daripada membawa balik ke Jawa, sebab di Surabaya nanti mereka akan berbelanja lagi.
Warga pedesaan pun memanfaatkan kehadiran kapal untuk menjual hasil bumi mereka. Maka tidaklah heran jika beberapa penduduk asli memanfaatkan masa sandar kapal dengan berkeliling menawarkan buah merah, buah durian, ikan panggang, atau manisan pala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar