Minggu, 09 Mei 2010

Taksinya Bayar Masing-Masing

Kalau Anda berada di Sumatera Utara, jangan sembarangan mencari taksi!
Sebab di sana ada dua macam pengertian taksi yang mungkin menimbulkan salah paham. Taksi-taksi seperti yang hilir mudik di Jakarta – yang pakai argometer dan ada tulisan Taxi di atasnya – hanya akan Anda jumpai di Kota Medan. Sementara di kota-kota yang lain – misalnya di Binjai, Kisaran, Pematangsiantar, Sibolga, Tarutung, atau Padangsidempuan – taksinya tidak pakai argo dan tidak ada tulisan Taxi di atasnya. Trayeknya juga bukan di dalam kota melainkan antar kota!
Sistim pembayaran taksi yang disebut belakangan tadi sama seperti kalau kita mau naik bis. Tidak harus mencarter tapi bisa bayar orang per orang. Kita juga tidak perlu datang ke loket atau agen untuk memesan atau membeli tiket. Cukup lewat telpon, beritahu kapan minta dijemput, sebutkan alamat, maka taksi akan datang ke rumah kita.
Urusan pembayaran diselesaikan setelah kita dikumpulkan di pool atau agen perusahaan taksi bersangkutan. Jumlah penumpang kurang dua atau tiga orang tidak menjadi masalah karena taksi tetap diberangkatkan.
Taksi biasanya diberangkatkan sekitar pukul sembilan malam. Dengan lama perjalanan delapan jam, biasanya pagi-pagi subuh sudah sampai tujuan. Ini satu lagi kelebihan taksi antar kota: penumpangnya diantar sampai ke alamat! Tak ada tambahan biaya – kecuali kalau alamatnya di luar kota.
Karena kelebihan-kelebihan itulah maka taksi-taksi antar kota banyak dipilih oleh masyarakat di sana. Lebih mahal sedikit tapi lebih nyaman daripada naik bis besar yang lamban dan banyak berhenti.

Dijemput Langsung Dari Rumah
Sibolga adalah kota di mana untuk pertama kalinya saya mengenal taksi. Karena harus ke Medan – ibukota provinsi yang jaraknya 349 km di utara – maka saya bertanya kepada rekan kerja, “Di sini bis apa yang paling nyaman kalau mau ke Medan?”
Soalnya sudah kebiasaan saya di Jawa kalau mau bepergian ke luar kota selalu pakai perusahaan bis yang full AC, tidak banyak berhenti, nyaman, dan pelayanannya prima. Berangkatnya pun harus malam hari sehingga pagi hari sudah sampai ke tujuan.
Rekan yang saya tanya malah berkata, “Naik taksi saja, Pak.”
“Carter maksudnya? Wah, mahal dong!”
Rekan tadi mengangkat gagang telpon, memutar nomor-nomor, kemudian terdengar berkata, “Nanti malam satu orang ke Medan, bisa? Bangku di samping supir masih ada? Oke, oke, jemput di mess pemda, atas nama Pak Erik. Jangan lupa ya!”
Lalu kepada saya berkata, “Nanti malam setengah sembilan Bapak dijemput. Tunggu saja di mess.”
Malamnya, baru pukul delapan lewat seperempat terdengar klakson berulang-ulang di depan rumah. Sebuah sedan datsun model lama dengan tulisan Bengawan Taksi di sisi pintu depannya berhenti tanpa mematikan mesin. Supirnya keluar sambil menanyakan apa betul saya mau ke Medan. Setelah dijawab iya, serta merta kedua tas saya dibawa dan dimasukkan bagasi.
“Mari, Pak, masih empat lagi yang harus dijemput.”
Saya duduk di samping supir yang mengamati secarik kertas kecil dengan penerangan lampu kabin. Itulah daftar nama dan alamat calon penumpang yang harus dijemputnya. Setelah semuanya terangkut, taksi kembali lagi ke pool. Di pool, para penumpang turun untuk mengurus tiketnya masing-masing.
Mekanismenya memang begitu. Calon penumpang tidak perlu datang ke pool atau loket. Cukup dengan menelpon saja. Juga tidak perlu membayar panjar atau uang muka. Semua diselesaikan sesaat sebelum pemberangkatan.
Tentu saja terkadang ada calon penumpang yang membatalkan kepergiannya. Bisa karena mendadak sakit atau ada keperluan lain. Tapi itu tidak menjadi masalah. Kalau ada calon penumpang lain yang menunggu di pool, dia bisa dimasukkan dalam daftar penumpang. Kalau tidak ada, “Tetap berangkat,” kata juragan taksinya. “Anggap saja resiko. Lagipula kalau tidak jadi diberangkatkan, kepercayaan penumpang terhadap kami bisa berkurang.”
Kemungkinan adanya penumpang baru untuk mengisi bangku yang kosong selalu ada karena mereka punya agen cabang di kota-kota yang dilewati sepanjang perjalanan Sibolga-Medan. Misalnya di Tarutung, Pematangsiantar, atau Tebingtinggi.

Diantar Sampai Depan Rumah
Biasanya taksi diberangkatkan pukul sembilan malam. Ini sudah diperkirakan sesuai dengan jam tempuh dan istirahat makan setengah jam sehingga tiba di kota tujuan menjelang pagi hari. Karena itu menjadi pemandangan biasa ketika pada pukul sembilan malam berbondong-bondong taksi bergerak meninggalkan Kota Sibolga. Demikian juga pada subuh hari, berbondong-bondong taksi dari Medan memasuki Sibolga.
Supir taksinya dibekali dengan surat jalan yang mencantumkan daftar nama penumpang dan tujuan masing-masing. Jangan kaget kalau supirnya bukan supir yang menjemput tadi. Supir yang menjemput tadi biasanya disebut supir raun yang tugasnya memang cuma raun-raun – alias keliling-keliling – menjemput calon penumpang.
Kalau naik taksi dari Sibolga ke Medan, maka tempat pemberhentian pertama biasanya di Kota Tarutung. Kota kecil berhawa dingin ini dipilih sebagai tempat istirahat karena jalur Sibolga-Tarutung terkenal dengan tikungan-tikungan tajamnya yang melelahkan. Padahal jaraknya hanya 66 Km. Tapi karena jalannya sempit, berliku-liku, dan banyak dihiasi tikungan tajam, jarak tempuhnya bisa sampai dua jam.
Sementara supir taksinya minum kopi panas sambil ngobrol dengan sesama supir taksi lain, penumpang bisa membeli oleh-oleh berupa Kacang Sihobuk – kacang garing khas kota tersebut. Kacangnya renyah dan dijamin tidak ada di kota lain. Penumpang juga tidak usah ragu makan banyak-banyak. Tidak usah kuatir bakal muntah karena jalur bertikungan sudah tidak ada.
Selanjutnya taksi meluncur mulus dengan kecepatan tinggi melewati Siborong-borong, Balige, Porsea, Parapat – kota di tepian Danau Toba – dan akhirnya Pematang Siantar. Jarak sejauh 155 km itu biasanya juga ditempuh dalam dua jam! Jalannya memang lurus dan mulus. Penumpang biasanya juga tertidur sehingga sering tidak menyadari kalau taksinya istirahat lagi di Pematangsiantar.
Supir taksi biasanya sudah mengantisipasi pukul berapa sebaiknya tiba di pool Kota Medan. Sebab kalau terlalu pagi kadang-kadang petugas pool atau supir raun-nya belum datang. Karena itu tidak jarang di Tebingtinggi taksi diistirahatkan lagi dan supirnya masuk ke rumah makan sekedar untuk tidur!
Dari Tebingtinggi memang tinggal 80 km lagi ke Kota Medan. Itu bisa ditempuh dalam waktu paling lama satu setengah jam saja. Jalannya juga nyaris tanpa hambatan apa-apa. Karena itu supir lebih suka tidur dulu daripada nanti menunggu lama di pool.
Memasuki daerah Amplas di luar Kota medan, penumpang biasanya sudah memberi tahu kepada supir minta diantar ke mana. Kalau alamat yang dituju berada sebelum pool taksi – biasanya di daerah Teladan – maka supir utama yang akan mengantarkan. Tapi kalau alamatnya setelah pool, supir taksi akan turun di pool, sementara tugas mengantar selanjutnya dilakukan supir raun.
Karena tujuan saya biasanya ke hotel, maka saya selalu minta diantar belakangan. Dengan cara begitu saya bisa mengenal jalan-jalan di Kota Medan. Saya menikmati bagaimana taksi menyusuri jalan besar dan kecil yang masih sepi, mengantar penumpang satu per satu sampai depan pagar rumah, bahkan terkadang ikut membantu memencet bel rumah untuk memastikan penumpangnya telah sampai dengan selamat.

Diprotes Tukang Becak
Sampai awal 1990-an taksi merupakan sarana transportasi favorit bagi sebagian warga Sibolga. Mereka yang punya urusan bisnis ke Medan banyak menggunakan taksi. Selain cepat, sistim reservasinya juga praktis. Tinggal telpon, dijemput, berangkat, sampai tujuan diantar ke alamat.
Pada awalnya taksi-taksi didominasi mobil jenis sedan dengan penumpang maksimal lima orang. Barangkali itu sebabnya disebut taksi karena mirip dengan taxi-taxi yang berseliweran di Jakarta. Nama-nama seperti Bengawan Taksi, Indah Taksi, dan Pelita Taksi sangat akrab bagi masyarakat di sana. Karena kelihatan bisnis tersebut menjanjikan prospek cerah, beberapa tahun kemudian – sekitar tahun 1993 – bermunculan perusahaan-perusahaan taksi sejenis tapi menggunakan kendaraan tipe colt L-300 yang bisa memuat delapan orang.
Maka setiap pukul sembilan malam berseliweranlah nama-nama seperti Simpati, Palagan, SBI, Bhineka, CN 2000, Citra Nasional, SMJ, dan beberapa nama lain meramaikan dunia pertaksian di Sumatera Utara. Beberapa di antaranya juga membuka trayek Padangsidempuan-Medan. Disusul kemudian trayek Sibolga-Padang, dan belakangan Padangsidempuan-Pekanbaru.
Maraknya perusahaan taksi yang muncul menunjukkan bisnis ini menguntungkan. Trayek yang dilayani pun makin beragam. Selain antar kota atau antar provinsi, ada juga yang melayani sampai ke kota kecamatan. Misalnya Aek Mais yang melayani rute Padangsidempuan-Natal, atau Anatra melayani Padangsidempuan-Kotanopan. Bahkan Sibolga-Padangsidempuan yang hanya berjarak 80-an km dilayani sampai dua perusahaan taksi. Hampir tiap jam armada mereka bersicepat mengantarkan penumpang.
Kehadiran taksi-taksi untuk jarak pendek tadi sempat memicu protes dari para pengemudi becak karena pendapatan mereka jadi berkurang. Logikanya memang jelas. Untuk apa lagi naik becak kalau taksi-taksi itu mau menjemput dan mengantar penumpang? Toh pada akhirnya penumpang adalah raja. Mereka bebas memilih sarana transportasi yang lebih cepat, efisien, dan tidak bertele-tele.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar